Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

December 24, 2009

Seperti Apa Film Avatar?

Penasaran dengan promosi dan ulasan tentang film Avatar, karya sutradara James Cameron, saya menyempatkan diri untuk segera menontonnya di bioskop. Bersama keluarga, apalagi karena tahu klasifikasi film itu adalah bukan untuk dewasa, saya ingin menjawab rasa penasaran itu.

input

Film yang katanya pembuatannya menghabiskan biaya sebesar 230 juta dollar AS ini menawarkan 2 versi, yaitu versi biasa (non 3D) dan versi 3D. Yang versi 3D, tentu saja memerlukan kacamata khusus untuk menontonnya. Sayangnya, buat yang kurang mengerti bahasa Inggris, kita akan kurang bisa memahami dialog dalam film ini karena tidak ada subtitle bahasa Indonesia-nya. Mungkin supaya tidak mengganggu efek tiga dimensinya! Sementara untuk bisa lebih menikmati sensasi film ini secara utuh, versi 3D-lah pilihannya. Namun, sayangnya lagi, tidak semua bioskop di sekitar kita dilengkapi teknologi yang memungkinkan diputarnya yang versi 3D ini.

Benarkah film itu benar-benar imajinatif dan dahsyat?

Kalau di film-film Holywood terdahulu (misalnya Mars Attacks, Independence Day atau Transformers, , kita penghuni bumi ini lebih sering dikunjungi oleh makhluk pendatang dari luar bumi, yang memiliki tingkat intelegensi dan peradaban jauh lebih tinggi, di film ini manusia-lah yang mengunjungi planet lain di sistem bintang yang tidak jauh dari tata surya, bernama planet Pandora.
Kali ini manusialah yang lebih unggul, karena di tahun 2154 yang sudah jelas peradaban dan teknologi jauh lebih maju dari sekarang, mereka mengunjungi planet Pandora yang dihuni bangsa Na'vi yang tergolong masih primitif, tinggal dan hidup dari hasil hutan, serta belum mengenal teknologi.

Adalah mineral unobtainium, yang sebongkah kecil saja harganya sudah jutaan dollar, yang menarik minat sebuah korporasi raksasa saat itu untuk mengirimkan misi ekplorasi dan eksploitasi ke Planet tersebut. Didukung dan dikawal oleh tentara bayaran bersenjata canggih, mereka membuka pertambangan di sana, mulai mendesak ke arah pusat tempat tinggal bangsa Na'vi.

Ada sebuah tim kecil berisikan para ilmuwan yang dibentuk, untuk bisa melakukan pendekatan terhadap makhluk asli planet Pandora itu. Tujuannya adalah agar penambangan bisa mendekat ke daerah yang kaya akan mineral tersebut, dan para penghuninya mau untuk direlokasi.

Gaya pimpinan tentara bayaran yang mengawal pertambangan tersebut mengingatkan kita akan arogansi militer semasa AS di bawah kepemimpinan George W. Bush. Bagaimana mereka menyikapi reaksi para penduduk asli terhadap desakan pertambangan ke wilayah mereka, yang menganggap bahwa itu adalah teror.
"We fight the terror with terror" begitulah ucapan kolonel Quaritch dalam pembekalan terhadap pasukannya. Dan itu adalah ucapan Bush pada masa kepresidennnya.

Tokoh sentral dalam film ini adalah Jake Sully yang diperankan oleh..sebentar..Sam Worthington sebagai mantan prajurit Marinir yang kakinya lumpuh.


December 4, 2009

Mencoba Menikmati Siaran TV Digital

Beberapa waktu yang lalu saya di rumah mencoba menginstall alat set top box yang berfungsi sebagai receiver sinyal TV digital. Dari mana set top box tersebut?
He.he.he..saya dapatkan secara gratis dari kawan baik saya. Kebetulan suaminya bekerja sebagai rekanan Depkominfo dalam proyek implementasi siaran TV digital di Indonesia. Katanya, kalau kita sengaja membeli alat itu di luaran, lumayan lah. Kita harus merogoh kocek sekitar 300-400 ribu rupiah untuk suatu uji coba yang belum tentu jadinya seperti itu. Kalau terima gratis, ya apa salahnya kita ikuti uji coba itu!

Implementasi siaran TV digital?
Bagi anda yang berlangganan siaran TV berbayar, seperti Indovision atau First Media, siaran digital pasti tidak asing, juga dengan alat set top box-nya. Namun yang saya maksud siaran TV digital di sini adalah untuk TV terestrial, yang tidak berbayar.
Iya, pemerintah melalui Depkominfo sejak tahun 2007 mencanangkan satu program peralihan siaran TV analog, yang selama ini dipakai oleh infrastruktur stasiun TV terestrial di Indonesia beserta produk televisi yang ada di masyarakat, ke bentuk siaran TV digital. Dasar dari peralihan ini adalah untuk mengikuti perkembangan teknologi pertelevisiaan yang semakin pesat, dan keuntungan adanya efisiensi kanal frekuensi dengan menggunakan siaran digital (katanya 1 kanal dapat membawa lebih dari 10 program tuh!)
Targetnya, proses peralihan ini berlangsung secara bertahap dari sekarang hingga tahun 2018 sepenuhnya infrastruktur industri siaran televisi sudah menggunakan sistem digital. (Waduh, lama juga ya! Mudah-mudahan kita masih diberi umur.)

Saat ini ada konsorsium beberapa perusahaan penyelenggara siaran TV yang tergabung dalam Konsorsium Televisi Digital Indonesia (KTDI, bukan KDRT he.he.he..) dan TVRI bersama Telkom sebagai perusahaan plat merah yang sedang menyelenggarakan percobaaan siaran TV digital. Uji coba yang katanya dimulai dari bulan Agustus lalu itu hanya bisa dicicipi oleh kita yang punya alat tadi, konverter yang mengubah sinyal digital dari pemancar siaran digital TV ke dalam bentuk analog supaya bisa dibaca oleh TV kita yang memang analog. Alat dibagikan secara cuma-cuma, hanya saya kurang tahu bagaimana mekanisme pembagiannya. (Yang jelas tidak seperti pembagian kompor dan tabung gas beberapa waktu yang lalu yang melibatkan perangkat pemerintah, kabupaten, kecamatan hingga ke RW/RT)

Percobaan siaran ini dilangsungkan terus sehingga pelaku industri yang berhubungan maupun masyarakat pengguna TV siap. Sayangnya, area yang sudah tercover siaran percobaan ini baru meliputi Jabodetabek, Alhamdulillah termasuk Cikarang ini. Rencananya, percobaan ini akan secara bertahap diperluas hingga meng-cover seluruh Indonesia (belum tahu kapan)

setopbox
Set Top Box yang dipasang (mereknya "FULAN" tuh! si Fulan he.he.he..)

Cukup dengan menancapkan jack kabel antena ke unit set top box, lalu sambungkan dengan kabel AV dari AV out alat tersebut ke input AV televisi kita, kita bisa menikmati siaran digital uji coba tadi. Sebelumnya, setting software-nya untuk mencari kanal siaran digital dari beberapa stasiun TV yang ada.

input
Tancapkan kabel AV dari set top box ke input AV televisi!

Supaya siaran TV yang lainnya, yang analog, tetap bisa dinikmati, kita bisa membuat satu lagi sambungan kabel antena dari antena out set top box ke antena in TV kita. Dengan demikian, kita tinggal memilih modus TV atau Video pada remote TV. TV untuk siaran analog dan Video untuk siaran digital yang melewati alat receiver tadi.

anteve
Gambar Anteve yang biasa agak "bersemut" pun sekarang menjadi jernih dan tajam!

Seperti yang digembar-gemborkan oleh Depkominfo, ternyata memang benar bahwa gambar pada TV yang berasal dari siaran digital jauh lebih bening dan lebih tajam, tanpa ada sedikit pun semut yang menghias layar televisi kita. Suaranya pun lebih bersih dan jernih. Menonton televisi pun menjadi lebih nyaman. Apalagi kita nikmati tanpa membayar!
Sayangnya, stasiun televisi yang bisa kita lihat (sewaktu pertama kali mencoba) baru 6 stasiun: TransTV, Trans7, Anteve, SCTV, MetroTV, dan TV One. Sayangnya lagi, kemarin saya coba, hanya ada 3 stasiun yang ada. Mana nih ujicobanya? Kok berhenti sih?
Selain itu, kok tidak ada TVRInya, katanya termasuk yang melakukan uji coba?

remote
Selain remote yang menjadi kelengkapan, dibagi juga buku tentang peraturan dan perundangan dalam bidang penyiaran (bukunya juga tebal Om! he.he.he..)

Tidak tahu siapa yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Tapi tetap saya berharap, perubahan sistem ini bisa berjalan dengan baik tanpa ada yang merasa dirugikan, khususnya masyarakat pemirsa televisi yang harus menyediakan alat set top box atau pun mengganti televisinya dengan televisi digital. Ditambah lagi, yang lebih penting, konten tayangan siaran TV harus lebih cerdas dan mendidik, tidak hanya sekedar menghibur!

CP, Des 2009
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
http://harihari-ceppi.blogspot.com

November 30, 2009

Seperti apa sih film 2012?

Setelah 2 kali gagal karena nggak kebagian tiket pada waktu yang dikehendaki, akhirnya kesampaian juga menonton film ini. Film yang menghebohkan selama tahun ini, ditambah lagi ada sebagian ulama yang mengharamkan menonton film ini, membuat kita penasaran untuk menontononya.

Jadi seperti apa sih cerita dan gambar-gambarnya? Ini hasil pengamatan dan
penontonan saya...




Film hasil produksi Sony Pictures Entertainment, yang sekarang memakai slogan "MAKE BELIEVE" ini,mem-visualisasi-kan kejadian kehancuran bumi yang terjadi di tahun 2012. Dasarnya adalah ramalan kalender bangsa Maya yang memprediksikan bahwa tidak ada lagi hari setelah tanggal 21-12-2012. Dihubungkan dengan kejadian pergeseran kutub bumi (polar shifts), lalu juga peningkatan aktivitas matahari (ini mirip di film "Knowing" yang dibintangi Nicolas Cage) dan juga ke-segaris-an planet-planet Tata Surya yang menyebabkan ketidakstabilan inti bumi.

Film yang disutradarai oleh Roland Emmerich ini, yang sukses dengan film Independence Day dan The Day After Tomorrow


November 28, 2009

Pemandangan Salah yang Biasa

Foto di bawah ini menunjukkan sebuah pemandangan yang sering kita lihat di kota-kota besar. Sebuah angkot berhenti menurunkan atau menaikkan penumpang. Sementara di pinggir jalan terlihat ada rambu lalu lintas dilarang berhenti, "letter S dicoret".

Photobucket

Saking seringnya melihat pemandangan seperti, mungkin kita sudah menganggap biasa kesalahan tersebut. "Yakh...namanya juga angkot! Nyari atau nurunin penumpang suka-suda dia saja!" paling-paling kita bergumam seperti itu.

Tapi sebentar...coba kita perhatikan, terdapat kesalahan lain di dalam pemandangan tersebut. Perhatikan baik-baik! Apa coba?

Masalah angkot berhenti di sembarang tempat, termasuk di tempat yang jelas-jelas ada tanda larangan berhenti, itu mah sudah jamak.
Yang lucu di gambar ini adalah...rambu lalu lintas dilarang berhentinya sampai 3 buah! S satu, S dua, dan S tiga. Tiga buah S, tripel S atau S3! (doktor dong!)

Kenapa rambu dilarang berhentinya sampai 3 buah? Apakah karena satu tidak cukup? Dua juga tidak cukup? Atau mungkin karena tidak ada koordinasi?
Benar-benar pemborosan! Apa DLLAJR tidak mengerti bahwa rambu itu hanya menjadi penghias jalan saja? Supir angkot (dan mungkin juga supir mobil lain) kan tidak pernah melihat!
Lagipula sebenarnya, tanpa ada rambu pun, yang namanya di belokan itu (seperti halnya di atas jembatan), tidak boleh berhenti, apalagi parkir.

Ada satu lagi kesalahan, kalau kita teliti. Apa coba?...he.he. he...

Lampu rem angkot yang berhenti itu hanya menyala satu! Betul kan?
Ini juga suatu pelanggaran!

Salam,
ceppi prihadi
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
http://harihari-ceppi.blogspot.com

PS: Foto saya ambil di pertigaan tol Cikarang, dari arah Lippo, kira-kira 2 minggu yang lalu.

November 2, 2009

Berangus dan Gigit

Tadi ada teman sekerja wanita yang menanyakan, “Pak, memberangus itu artinya apa ya?”
Saya balik bertanya, ”Dari mana kamu tahunya?”

”Dari berita di televisi, Pak! Katanya KPK sedang diberangus.”jawabnya.

”Oh, begitu!” gumam saya begitu mengetahui kenapa teman saya menanyakan hal itu.

Akhirnya saya jelaskan bahwa istilah ”berangus” sebenarnya berasal dari istilah alat yang digunakan pemilik anjing untuk menutup/mengikat moncong anjingnya agar tidak menggigit dan membahayakan orang di sekitarnya. Saya jarang melihat anjing yang dilengkapi berangus ini, tapi menurut saya alat ini menjadi aksesoris yang wajib dimiliki oleh pemilik anjing untuk mencegah anjingnya mencederai orang lain. Daripada dituntut kan! Apalagi anjingnya belum disuntik rabies. Hiiy...ngeri!

Ada istilah lain untuk ”berangus”, yaitu ”brongsong” (kata teman saya tadi kata ini berasal dari bahasa Jawa), yang digunakan juga untuk menyebut alat yang terbuat dari tali kulit yang dianyam sedemikian rupa supaya bisa mengikat moncong anjing ini. Dibrongsong artinya sama dengan diberangus. Jarang dengar ya? Anda mau pakai brongsong ? ...hahaha...

Kalau begitu, diberangus artinya diikat supaya tidak bisa menggigit dong!

Ya iyalah. Selain anjing tidak bisa menggigit, untuk menyalak pun menjadi tidak bisa.


Anjing yang diberangus (Sumber gambar: www.english-bulldog-dog-breed-store.com)

Nah, itulah. KPK juga karena keberaniannya mengungkap berbagai kasus korupsi di Indonesia, sekarang sedang mengalami ”pemberangusan”. Agar tidak bisa menyalak, apalagi menggigit! Karena banyak pihak yang tidak mau di-salak-i (benar nggak ya istilah ini?) apalagi kena gigitannya...he.he..he...

Indonesia..Indonesia...kapan sih negara kita mau maju dan bebas dari korupsi?


CP, Nov 2009









_______________________________________________ (Sumber gambar: politikana.com)


November 1, 2009

Oleh-oleh dari Pesta Blogger 2009


Bagaimana kalau para blogger berpesta?
Seperti apa sih pestanya?
Saya yang sebelumnya tidak pernah ikut dan tidak pernah tahu pesta macam apa itu, mau saja menerima ajakan teman-teman dari Komunitas Cimart Cikarang untuk menghadiri acara Pesta Blogger 2009. Bagi saya, yang tidak pernah merasa sebagai seorang blogger ini, pengalaman apa pun tetap akan berharga termasuk datang ke acara tersebut.
Apalagi masuknya gratis tis, katanya. Menarik bukan?

Pada hari H, tanggal 24 Oktober 2009, berangkatlah kami dari kota tercinta Cikarang bertujuh dikawal dan di-"kusir"-i oleh Pak Eshape, blogger kawakan teman baik kami, ke tempat perhelatan akbar tersebut. Tidak ketinggalan pula ikut blogger cilik Lilo Eshape, anak bungsu Pak Eshape. Lilo ini meskipun baru duduk di kelas 4 SD, sudah menunjukkan semangat dan bakatnya sebagai seorang blogger, berkat bimbingan sang ayah.
Kami yang sudah berani mengaku "blogger" ini, meskipun masih ingusan ini ...he.he.., dengan cerianya selama perjalanan berbincang-bincang tentang acara yang akan kami ikuti ini. Dalam benak kami, masih ada pertanyaan seperti apa sebenarnya pesta blogger ini. Sementara sang "kusir" dengan tenangnya membesut keretanya membelah jalan tol Cikarang - Jakarta, hingga dalam waktu yang relatif singkat sudah tiba di gedung Smesco Jakarta.

Gadis petugas registrasi, yang membuat semangat para blogger

Tiba di lokasi, kami harus melakukan registrasi dulu. Karena sudah memilik undangannya, tentu saja kami tidak perlu membayar, malah langsung dapat satu tas berisikan bermacam-macam souvenir plus kaos bertuliskan "Pesta Blogger 2009". Dasar nasib bagus!...he.he.he..
Tidak lupa, karena melihat sebuah papan besar bergambarkan logo-logo sponsor acara ini, kami berfoto-foto ria dulu untuk membuktikan bahwa kami memang sudah mengikuti acara ini.

"Bergaya......klik! "


Ha.ha..ha...narsis banget! en...pastinya norak banget!

Masuk ke dalam gedung, berderet beberapa stand dari pihak sponsor. Setiap stand kami kunjungi, dan beberapa di antaranya memberikan souvenir yang cukup menarik.
Stand US embassy adalah yang paling menarik. Dengan hanya mengisi selembar questionnaire, kami bisa dapatkan satu paket buku-buku tentang Amerika Serikat, plus satu buku tebal tentang biografi Barack Obama, dan satu lagi tentang Korupsi hasil karya penulis AS. Kalau dihitung-hitung, nilai buku ini tidak kurang dari 200 ribu rupiah. Wah, bayangkan kalau buku-buku sejenis bisa dibagikan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Anak-anak kita bisa tambah pintar tanpa orang tuanya harus mengeluarkan biaya di tengah kehidupan yang makin berat ini!

Suasana di Lobby

Setelah sekian lama menunggu di area lobby, akhirnya kami masuk juga ke dalam convention hall-nya. Dari udara yang terasa panas menggerahkan sewaktu di lobby, berubah menjadi hawa sejuk dari puluhan AC di dalam ruangan tersebut. Kami mulai membaca situasi. Rupanya pestanya duduk menghadap panggung. Wah, acara seperti ini pasti berisi pidato atau pertunjukan di panggung. Tapi tidak terlihat sedikit pun peralatan band tuh! Artinya?
Hanya ada 4 layar putih untuk proyektor di 4 sudut ruangan. Layar? Pastinya buat nonton nih!
Kami duduk di dekat panggung sebelah kanan, berkumpul bersama teman-teman dari Blogger Bekasi. Beberapa saat, acara pun dimulai.

One Spirit One Nation


Hadirin disambut oleh tayangan video pembukaan Pesta Blogger 2009 di keempat layar besar tadi. "One Spirit One Nation" adalah tema pesta ini, yang menggambarkan semangat satu bangsa. Semangat satu bangsa yang harus diwujudkan oleh semua blogger di seluruh Indonesia. Terlebih bangsa kita baru saja menyelesaikan proses pemilu dan terbentuknya pemerintahan baru dengan aman dan selamat. Ini membutuhkan komitmen kita semua untuk mewujudkan negara Indonesia yang lebih baik dan lebih maju untuk 5 tahun ke depan. Juga terjadinya bencana alam di beberapa daerah di Indonesia, yang membangkitan rasa solidaritas kita terhadap saudara-saudara kita yang mengalaminya, solidaritas untuk membantu mereka. Para blogger berada di barisan terdepan dalam hal membangun semangat ini!

Tayangan yang cukup singkat selama kurang lebih 1 menit ini cukup menyentuh rasa kebangsaan kita dan sangat membanggakan para blogger Indonesia yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia. Blogger Indonesia untuk kemajuan negara Indonesia!

Menkominfo memberikan sambutan

Dalam kesempatan itu, hadir Menkominfo kita yang baru untuk membuka sekaligus memberikan sambutan pembukaan pada Pesta Blogger 2009 ini. Sambutan Pak Tifatul Sembiring diawali dengan perkenalan alamat facebook dan twitter beliau, serta pengakuan bahwa beliau juga seorang blogger. Menkominfo ini punya visi bahwa komunikasi dan informasi harus menjadi alat untuk mencapai kemajuan bangsa kita. Target beliau adalah komunikasi yang lancar, dalam arti murah dan mudah diakses, serta informasi yang benar, dalam arti informasi yang positif dan bermanfaatlah yang kita kembangkan.
Pidato Menkominfo itu sempat terhenti sejenak karena kericuhan kecil yang disebabkan munculkan sesosok robot yang kita kenal di film Star Wars.

Kemunculan satu Darth Vader's stormtrooper menghentikan sejenak pidato Menkominfo

Hadir pula di acara itu, meskipun belakangan, Ibu Prita Mulyasari dan suami. Ibu Prita yang kasusnya di pengadilan belum selesai, merupakan ikon perjuangan para blogger Indonesia dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. Dukungan untuk beliau dari komunitas blogger sangat besar, sehingga panitia menganggap perlu untuk mengundangnya. Semoga saja kasusnya bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya oleh pengadilan, dan kita pun para blogger tidak akan pernah merasa khawatir untuk tetap menyuarakan kebenaran dan hal-hal yang memihak kepentingan masyarakat banyak melalui dunia blog.

Beberapa panita inti tampil di panggung, di antaranya Enda Nasution yang kita kenal sebagai "Bapak Blogger Indonesia" dan juga Amril Taufik Gobel, yang merupakan blogger senior dari komunitas Anging Mamiri sekaligus juga warga Cikarang serta teman baik kami. Mereka memperkenalkan diri sekaligus memberikan sambutan dan kesan-pesan untuk acara ini.
Selain itu pula, perwakilan dari komunitas blogger yang datang dari hampir seluruh Indonesia juga tampil di panggung.
Berdasarkan data panitia, memang hadir lebih dari 1300 orang di acara Pesta Blogger 2009. Hebat! Dari Kalimantan, dari Sulawesi, Sumatra, Jawa Timur, Jawat Tengah, Yogyakarta, Bandung dan tentu saja dari daerah yang dekat seperti Bogor dan Bekasi (Cikarang juga dong!). Jakarta, so pasti.


Menyempatkan diri berfoto bersama Ibu Prita









Hidup Blogger Indonesia!
One Spirit One Nation

Sampai Jumpa di Pesta Blogger 2010!

CP, Okt 2009


October 11, 2009

Canggih dan Wigati

Tahu arti kata "canggih" kan?
Pasti tahulah. Iya, arti kata tersebut menurut KBBI adalah modern, atau rumit, atau bergaya intelektual. Tapi selain itu, bisa juga berarti cerewet atau bawel. Nah, baru tahu kan arti yang terakhir ini? Kita memang jarang menggunakan kata "canggih" dalam pengertian yang terakhir.

Kata "canggih" ini memang cukup sangat populer, hingga semua lapisan masyarakat menggunakannya, baik dalam percakapan sehari-hari, maupun dalam bahasa tulisan bahkan dalam tulisan ilmiah. Ada barang elektronik baru, dibilang canggih. Ada telepon selular baru, dibilang canggih. Ada mobil baru dibilang canggih. Ada orang yang pikirannya kreatif, dibilang canggih juga. Bahkan ada penjahat yang akalnya hebat dalam mengelabui korbannya, dikatakan canggih juga.















Pesawat tempur "canggih" (sumber gambar: alutsista.blogspot.com)

Seingat saya kata yang berasal dari bahasa Indonesia lama ini baru diperkenalkan oleh Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia di pertengahan dekade 80-an, sebagai padanan kata Inggris "sophisticated". Namun, ternyata berhasil merebut perhatian para pengguna bahasa Indonesia, buktinya kita sekarang sering menggunakannya.
Bahasa memang tergantung selera penggunanya! Jadi jika ada kata baru (yang bisa saja berasal dari bahasa Indonesia lama yang didaur ulang atau dari bahasa daerah yang sudah me-nasional/kata serapan) yang diperkenalkan sesuai dengan selera pengguna, maka kata itu akan mudah untuk populer. Canggih euy! (he..he..he..)

Jika ada kata baru yang diperkenalkan ke dalam bahasa Indonesia dan akhirnya berhasil populer di masyarakat seperti canggih ini, maka ada juga kata baru yang gagal untuk menjadi populer dan akhirnya hilang dengan sendirinya. Lho, memang ada?
Adalah!
Salah satu contohnya adalah "wigati".
Hah, "wigati"! Apaan tuh?

Pasti banyak yang baru mendengar kata "wigati" ini, tetapi mungkin buat sebagian teman-teman yang bersuku Jawa ada yang pernah mendengar bahkan menggunakannya. Dulu kata "wigati" ini diperkenalkan juga ke dalam bahasa Indonesia, hampir satu waktu dengan "canggih", oleh para ahli di PPBI. Namun, gagal pada akhirnya, seperti tadi saya sampaikan. Buktinya anda, yang tidak bersuku Jawa, baru mendengar kata ini kan!

Arti "wigati" yang diperkenalkan saat itu adalah mendesak, sesuatu yang harus segera atau saat itu juga. Dalam bahasa Jawa-nya, artinya kira-kira adalah "penting" (benar kan?).
Lha, hampir sama dengan "urgent" dong dalam bahasa Inggris!? Yang mungkin lebih akrab di telinga kita! (Pelafalan yang paling umum di masyarakat adalah "arjen", yang sebenarnya dalam bahasa Inggris tidak semua huruf "u" dibaca "a", he..he..he..)
Memang! Memang kata "wigati" ini tadinya dimunculkan untuk menggantikan penggunaan kata "urgent" yang sudah banyak digunakan masyarakat. Namun, sekali lagi, sayang, gagal! Entah karena kurang proses sosialisasinya atau karena masyarakat Indonesia kurang menyukainya (baca: kurang cocok, bukan selera).
Ditambah, mungkin, karena kata tersebut terdiri dari 3 sukukata, lebih banyak daripada sukukata "arjen". Padahal, orang Indonesia kan senang yang singkat-singkat!











Arjen (sumber gambar: www.teamsters952.org)

Hingga saat ini, bila kita mencari kata ini di dalam KBBI kita tidak akan menemukannya. Yakh, mungkin karena kegagalannya itu. Para ahli bahasa harus menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga.


Download dan Upload

Ada lagi kata-kata bahasa Inggris yang sedang dalam proses peng-indonesia-an, diganti oleh kata baru. Saat ini kata barunya sedang dalam masa pengenalan dan pemopuleran (benar nggak ya istilah ini?). Dua di antara kata-kata tersebut adalah "download" dan "upload".
Nah, untuk anda yang biasa "online" (Ini juga, padanan bahasa Indonesia-nya apa ya? Masalahnya istilah ini terlanjur populer, ditambah lagi si Bang Saykoji menjadikannya sebagai judul sebuah lagu yang juga amat populer) tentu sangat akrab dengan istilah "download" dan "upload" ini. Saya tidak perlu menjelaskan arti kedua istilah itu, namun saya dan tentu saja kita semua perlu mempertanyakan apakah kata baru padanannya yang disiapkan, nantinya akan populer seperti canggih ataukah akan mengalami kegagalan seperti wigati.

"Download" sering diplesetkan menjadi "donlot" biar lebih mudah pengucapannya, dan kadang-kadang diistilahkan juga dengan "sedot" (ini mah bahasa anak muda), cuma kok kedengarannya nggak enak ya!

"Unduh" adalah kata baru yang dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai padanan untuk "download", sementara untuk "upload"-nya dipadankanlah dengan kata "unggah". Kedua kata tersebut, "unduh" dan "unggah", yang terdengar asing (maksudnya "daerah banget!"), katanya berasal dari bahasa Jawa. Secara penggunaan, meskipun belum begitu populer, sudah mulai banyak dipakai, khususnya di dunia maya. Coba saja masuk ke Google Translate, di sana anda bisa men-translate kedua kata tersebut ke dalam bahasa Inggris maupun sebaliknya.

Sementara secara resmi, baik "unduh" maupun "unggah" belum masuk ke dalam KBBI dalam arti padanan tersebut. Kata-katanya sendiri sudah ada di dalam KBBI, namun untuk arti lain. Artinya, jika para pengurus PPBI melihat perkembangan cukup baik dari sosialisasi kedua kata itu sebagai padanan "download" dan "upload", hingga populer dan dipakai secara luas di masyarakat, tidak tertutup kemungkinan keduanya dalam pengertian itu akan masuk pula ke dalam KBBI.

Anda sering men-download lagu-lagu MP3?
Atau, anda sering mengunduh lagu-lagu MP3?
..hehehe..terdengar asing, tapi lama-kelamaan biasa juga.

(CP, Okt 2009)

Apa hubungannya POLRI dengan BRI?

Apa hubungannya POLRI dengan BRI?

Yang satu adalah institusi negara yang mengurusi masalah keamanan sementara yang lainnya sebuah bank milik pemerintah.

Nggak berhubungan dong?

Ada sih, hubungan persamaan!
Dua-duanya berakhiran "RI", meskipun yang satu berasal dari kata "Republik Indonesia" sementara yang satunya lagi dari "Rakyat Indonesia" .. he..he..he...

Itu saja?

Nggak dong!
Ada persamaan yang lain, yaitu...kedua-duanya punya pasukan khusus!

Lho?

Iya, kalau POLRI mereka memiliki detasemen khusus antiteror "Densus 88" (Dari mana angka 88 ini coba? Yang jelas ini bukan tahun kelahiran detasemen ini, apalagi nomor trayek angkot yang melewati markas mereka).

Kalau BRI?

BRI juga punya. Mereka punya pasukan khusus, yang namanya Pasukan Untung Beliung Britama. Lihat saja di televisi beberapa hari ini. Sering ditayangkan kejadian satu pasukan berseragam ala pasukan anti teror, lengkap dengan senjata otomatis dan helm, google serta rompi tahan peluru yang semuanya serba hitam. Hanya mereka tugasnya bukan memburu para teroris seperti yang dilakukan oleh Densus 88, melainkan mencari nasabah mereka yang berhak atas hadiah sejumlah mobil keren dan mahal!

Cukup menghebohkan, karena kehadiran pasukan itu di televisi didahului preview dari tayangan lengkap iklan itu beberapa saat sebelumnya, yang menimbulkan rasa penasaran pemirsa televisi yang sebagian besar menyangka ada film baru. Benar-benar iklan yang kreatif, dengan cerdas memanfaatkan momen kejadian penangkapan dan penembakan mati Noordin M Top, buron teroris nomor wahid Indonesia! Memang sejak populernya nama Densus 88, citra pasukan antiteror cukup kuat dalam pikiran masyarakat kita, ditambah lagi keberhasilan terakhir mereka memburu NMT telah melambungkan citra dan peranan mereka. Lihat saja, penampilan yang benar-benar gagah dan sangar dengan pakaian serta perlengkapan khusus (sebenarnya sudah lama kita dicekoki penggambaran oleh banyak film Holywood akan kehebatan pasukan counter terrorist, punya Amerika tentunya), telah merampas sebagian perhatian kita dan menimbulkan rasa kagum akan kesigapan dan sepak terjang mereka. (Meskipun kejadian di Temanggung sangat menggelikan, terlalu berlebihan menangkap 1 orang teroris dengan mengerahkan ratusan anggota pasukan).















Citra Densus 88 tampil di sini. (sumber gambar: indonesiaindonesia.com)

Agen pembuat iklan itu menangkap ide menampilkan citra pasukan khusus tersebut, meskipun bukan untuk memburu teroris, melainkan memburu nasabah pemenang hadiah undian bank. Disertai dengan special effect yang menggambarkan seakan-akan penggerebekan sarang teroris beneran, lengkap dengan peragaan terjun dengan tali dari helikopter (istilah kerennya nih helly rapelling) dan tampilnya puluhan mobil serba hitam yang berkesan mobil pasukan anti terror.

He..he..he..kita sempat tertipu! Kreativitas yang patut diacungi jempol, meskipun bisa saja ada yang menganggap itu menurunkan wibawa pasukan anti teror.

Bagussss! (seperti kata Pak Tino Sidin almarhum)



Bank BTN dan Antri

Hari Rabu yang lalu saya pergi ke Bank BTN, yang berlokasi di Ruko Tol (nama resmi pertokoannya apa ya? Yang jelas di kompleks ruko yang berada di pojok belokan dari dan menuju gerbang tol Cikarang Barat), untuk mengurusi suatu keperluan. Tiba di situ, sempat putar-putar dulu mencari lahan parkir kosong, saat berjalan dari arah area parkir, dari jauh saya sudah melihat deretan sepeda motor berbaris parkir di depan bank itu, lalu terlihat juga beberapa bangku kayu. ”Ini pasti buat duduk orang-orang yang antri! Cocok deh...di depan bank ada banku...eh bangku!” pikir saya. Saya memang baru pertama kali datang ke tempat itu, setelah beberapa tahun yang lalu sering ke BTN sewaktu lokasi banknya masih ada di Ruko Kuning, untuk menyetor cicilan rumah. Sebelum ke situ, saya memang salah datang ke Ruko Kuning mencari-cari Bank ini namun tidak ditemukan!

Begitu masuk pintu bank, langsung saya mendapat sambutan berupa pertanyaan yang diajukan secara sopan oleh seorang petugas security yang sekaligus bertugas sebagai doorman (bukan doberman ya!). Saya jelaskan keperluan saya, dan petugas security itu meminta saya agar mendatangi Customer Service-nya, yang jelas terlihat ada di 2 meja dengan masing-masing seorang staf. Eh, kok ada ruangan aquarium, alias ruangan tertutup dinding kaca yang di dalamnya terdapat meja dan juga satu set sofa. Pasti itu ruang customer service VIP, yang digunakan untuk menerima nasabah VIP. Ruangan yang berada di pojok depan ini memiliki fasilitas AC tersendiri dan terlihat sepintas, staf CS-nya lebih cantik daripada staff yang di luar, he..he..he...Wajar lah, mereka menghadapi nasabah yang duitnya banyak! Layanan prima untuk nasabah prima, begitu prinsip yang dipegang sebagian besar bank. Wah, sayang, saya cuma nasabah biasa-biasa saja, bukan nasabah VIP.

Saya berjalan menuju ke arah meja CS di dekat tangga yang saat itu sang staf sedang meladeni seorang nasabah. Saya duduk di deretan kursi di sekitar CS itu. Menunggu beberapa menit, saya baru menyadari bahwa antrian ke CS itu harus menggunakan kupon antrian. “Wah, ambil dari mana nih?” tanya saya dalam hati. Akhirnya saya kembali lagi kepada sang doberman...eh doorman bapak security di dekat pintu.

"Oh, iya. Bapak harus menggunakan nomor antrian!" Pak security itu menjelaskan sambil mengambil secarik tiket antrian dan menyerahkan kepada saya.

"Yeee...kenapa nggak tadi ngasih taunya!” gerutu saya dalam hati. Tapi saya menyetujui sistem antrian dengan tiket ini, bahkan saya mau semua bank menerapkan sistem seperti ini. Meskipun tiketnya masih pakai sistem manual, tetap jauh lebih baik daripada antri tidak bernomor. Kita tinggal duduk, menunggu nomor antrian kita dipanggil, sudah deh..langsung berhadapan dengan petugas yang kita tuju. Tidak usah antri berbaris panjang seperti gerbong kereta pada saat musim mudik, apalagi bergerombol di depan loket seperti di tempat-tempat layanan lain.

Akhirnya kembali lagi ke tempat duduk tadi, dengan tiket antrian berangka yang menunjukkan bahwa saya harus menunggu sekitar 7 orang. Wah, bisa cepat nggak ya?

Selama menunggu saya mengamati sekitar. Di tempat baru ini BTN berubah menjadi lebih mewah, lebih bersih dan lebih teratur. Antrian setoran dan tarikan menuju teller memang cukup panjang, sampai dibelok-belokkan. Seperti di Dufan aja nih, tapi tidak sepanjang, dan belokannya tidak sebanyak di sana he..he..he...

Saya juga bisa merasakan sikap karyawan, seperti dibuktikan oleh security tadi, yang jauh lebih sopan dibandingkan dulu-dulu. Yakh..memang kalau mau nasabahnya banyak, harus seperti ini. Berilah pelayanan sebaik-baiknya kepada nasabah/pelanggan. Biarpun bank ini milik pemerintah, tetap harus dikelola secara profesional!

Perhatian saya beralih ke CS yang baru kembali dari ke ruangan dalam, keluar membawa selembar uang biru, menghampiri dan berbicara kepada nasabah yang sedang dilayani. Oh, rupanya si Ibu CS ini mengembalikan selembar uang yang cacat, terlihat seperti bekas kena rokok. Minta ditukar dengan yang uang yang tidak cacat.

Wah, bank ini tidak mau menerima uang cacat!

Bagaimana kalau kita punya uang cacat ya? Nggak bisa disetor ke bank dong!

Tapi setahu saya bisa, cuma harus ke Bank Indonesia. Konon katanya!

(Saya jadi teringat sebuah film di televisi tentang kisah hidup selembar uang satu dollar kertas, dimulai sejak keluar dari percetakan federal, peruri-nya Amerika, karena ditarik seorang nasabah. Berikutnya, uang itu berpindah dari satu tangan ke tangan lain, hingga berkali-kali. Sampai di tangan seseorang ada kejadian yang menyebabkan uang itu robek menyisakan hanya sedikit lebih dari separuhnya, sekitar 60% saja ukuran uang itu. Kemudian uang itu terjatuh/sengaja dibuang oleh pemiliknya hingga ditemukan oleh seorang tunawisma (homeless kata mereka) yang menukarkannya ke bank agar dia bisa membeli makanan. Dan ternyata uang itu diterima oleh pihak Bank!
Di film itu memang dijelaskan bahwa bank tersebut masih bisa menerima uang kertas yang cacat, dengan catatan, ukurannya lebih dari 50 %.
Oooh…begitu ya! Sepertinya memang aturan itu di AS berlaku nyata tidak hanya di film itu saja. Namun mungkin hanya bank-bank tertentu saja yang mau menerimanya.)

Di depan saya terlihat 2 orang karyawan bank sedang bekerja memisah-misahkan kertas struk, selembar demi selembar. Kok kerjanya di kursi buat nasabah menunggu sih? Nasabah bisa nggak dapat kursi dong!. Sambil memperhatikan mereka, saya merasa sudah lama sekali menunggu kedua CS itu melayani nasabah. Ada nasabah yang dilayani sampai hampir setengah jam! Ngapain aja ya? Bikin saya penasaran.

Setelah nasabah yang setengah jam itu selesai, eeh..CS yang Ibu-ibu itu bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah depan meja, dan kemudian....memutar papan segitiga yang setelah dibalik tertera tulisan “ISTIRAHAT”!

Wadoouuw...kok malah istirahat sih! Yang menunggu lagi banyak-banyaknya.

Berarti CS-nya tinggal satu dong, makin lama saja nih!

Akhirnya setelah sekian lama berada di dalam bank itu (sekitar 1,5 sampai 2 jam) akhirnya saya kebagian juga dapat layanan si Ibu. Aaah..cukup lama ya. Harusnya pelayanan seperti ini bisa dipercepat! Caranya?
Ya, dicarilah cara agar pelayanan bisa lebih cepat, misalnya staf CS-nya ditambah.

Waktu giliran saya, paling memakan waktu sekitar 10 menit. Jadi saya harus menunggu sekitar 100 menitan untuk mendapatkan 10 menit. Yakh..memang kita harus sabar!

Secara umum, Bank BTN ini khususnya yang saya datangi sudah berhasil mengubah sistem dan style pelayanannya (dibandingkan dulu), meskipun tetap ada beberapa aspek yang harus diperbaiki. Salah satunya adalah masalah antrian!

Sebagai bank yang menangani KPR terbesar di Indonesia, sudah pasti BTN tidak akan kekurangan nasabah. Dan itu sudah menjadi jaminan bahwa investasi (karena sejumlah dana harus dikeluarkan, misalnya untuk memberikan training ke karyawan, memperbaiki struktur jaringan komputer bank, memilih lokasi strategis, dll) untuk menciptakan sistem kerja yang profesional dan memuaskan nasabah pasti akan kembali. Dan bukan tidak mungkin, nasabahnya akan bertambah banyak, mengingat masyarakat Indonesia masih lebih percaya kepada bank pemerintah, dan juga masih banyak yang belum punya rumah!















Suasana antrian di sebuah bank (sumber gambar http://sevilla99.files.wordpress.com, mohon maaf & terima kasih)

Kalau antrinya tertib dan teratur , biar lama menunggu saya rela. Seperti di bank-bank ini!
Masalahnya, antri ini masih belum menjadi budaya kita, di kehidupan sehari-hari. Mau bukti? Lihat tuh di jalan-jalan.

He..he..he..



Q, please! (artinya “Antri Dong!”)

CP, Okt 2009

August 21, 2009

Bendera Merah Putih

Tanggal 17 Agustus sudah lewat, tapi suasana perayaan kemerdekaan RI masih terasa. Di mana-mana kita masih bisa melihat bendera merah putih yang masih terpasang, berbagai umbul-umbul, spanduk, gapura, dan hiasan-hiasan lain mewarnai setiap sudut lingkungan kita.

Bendera Merah Putih (sumber gambar: kaskus.us)

Bendera merah putih! Ya, itulah bendera negara kita. Sederhana, hanya terdiri dari 2 warna, merah dan putih. Merahnya di atas dan putihnya di bawah. Buat sebagian orang, mungkin bendera kita terlalu sederhana, tidak keren dan kurang membanggakan.
Tapi anda, juga saya, tidak boleh beranggapan begitu!
Bendera itu ada dan tegak berdiri di tanah ibu pertiwi karena ada yang memperjuangkannya. Tidak terhitung berapa banyaknya tetes air mata, banjir keringat, tumpahan darah dan hilangnya nyawa rakyat dan bangsa Indonesia yang telah berkorban untuk menegakkan bendera merah putih itu.

Saya ingat waktu di SD dulu, ibu guru saya menerangkan bahwa bendera pusaka kita dijahit sendiri oleh istri pemimpin kita saat itu, yaitu Ibu Fatmawati Soekarno. Bendera itu memang berasal dari 2 kain yang berbeda warna, merah dan putih, dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter. (Ingat ya, itulah perbandingan ukuran panjang lebar bendera kita, 2 banding 3). Saya ingat juga bahwa bendera pusaka itu sewaktu zaman revolusi kemerdekaan dibawa-bawa oleh para pejuang kita agar tidak jatuh ke tangan tentara Belanda yang saat itu bermaksud menjajah kembali Indonesia. Sampai-sampai bendera pusaka itu pernah disembunyikan di pucuk pohon kelapa, cerita Ibu Oom (dibacanya O-om ya, maklum orang Sunda, bukan um) ibu guru sejarah saya saat itu.
Memang, bendera pusaka itu tidak boleh jatuh ke tangan musuh, karena itulah menjadi simbol kemerdekaan negara RI.

Lalu ada peristiwa heroik di mana para pejuang kita merasa kehormatan negara kita tidak dianggap oleh bangsa lain, yaitu beberapa waktu setelah tentara Sekutu memasuki wilayah tanah air kita. Saat itu, di bulan September 1945, di sebuah hotel bernama Yamato, atau Hotel Orange (nama Belandanya) di Surabaya, berkibarlah bendera merah putih biru. Ya, merah putih biru! Berarti bendera Belanda!
”Apa-apaan orang Belanda mengibarkan seenaknya benderanya di wilayah kita!”
Mungkin itulah pikiran para pemuda dan pejuang kita saat melihat bendera merah putih biru dengan angkuhnya bertengger di tiang menara hotel tersebut. Akhirnya beberapa pemuda yang merasa tersinggung kehormatan bangsanya, dengan beraninya memprotes kepada tentara Sekutu dan ada seorang pemuda yang memanjat gedung hotel itu mencapai tiang di mana bendera itu dipasang. Dan dirobeknyalah bagian biru dari bendera itu, sehingga yang ada tinggal merah putihnya.
Berkibarlah benderaku! Merah Putih. Sang Dwi Warna.
(Siapa berani menurunkan engkau serentak rakyatmu membela!)

Jadi, bendera kita itu sangat bersejarah, dan warna merah putih itu bukan asal memilihnya. Makanya kita tidak boleh sembarangan menggunakan, atau memodifikasi bendera itu (Ingat kan pernah kejadian ada grup band musik yang menampilkan logo grupnya di atas bendera merah putih? Bagaimana tanggapan anda?)
Warna merah dan putih itu sangat filosofis, yang secara simpel berarti bahwa bangsa kita sangat menjunjung tinggi keberanian (merah) atas dasar kebenaran/kesucian (putih). Sehingga warnanya merah di atas putih. Bukan sebaliknya, putih di atas dan merah di bawah. Filosofi ini dipakai oleh para pendiri negara kita (founding fathers) sewaktu menentukan desain dan warna bendera yang akan dijadikan bendera negara.

Bahkan, Bung Karno sempat mengutarakan pemikirannya, seperti yang dituangkan dalam otobiografinya BK Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis oleh Cindy Adams. Bahwa warna merah dan putih itu sudah menjadi budaya bangsa Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Budaya pembuatan bubur merah bubur putih setiap ada peristiwa penting. Lalu konsep getah (putih) dan getih (merah), cairan kehidupan, yang membuat tumbuhan, binatang dan manusia hidup. Penggambaran surya (matahari) dan chandra (bulan) pun dengan berupa kedua warna tersebut. Surya digambarkan sebagai warna merah dan chandra putih.

Mr. Muhammad Yamin lebih dahsyat lagi. Beliau menyatakan dalam bukunya yang berjudul ”6000 Tahun Sang Merah Putih”, bahwa warna merah dan putih sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak zaman prasejarah dulu. Di gua-gua yang dihuni manusia zaman dulu, dapat ditemukan bukti-bukti yang menyatakan bahwa warna merah dan putih sudah digunakan sejak dulu dan menjadi warna penting dalam kehidupan masyarakat. Di zaman kerajaan Nusantara, umbul-umbul berwarna merah dan putih tercatat digunakan pertama kali pada saat pemerintahan Raja Kertanegara di kerajaan Singosari.
Ada lagi, pada rumah-rumah dulu, sewaktu dibangun, pasti dipasangkan kain merah putih pada kayu suhunan atap rumah. Saya ingat di rumah tempat tinggal saya sewaktu kecil, karena sering main ke ruang atap rumah, saya melihat ada bendera membungkus di kayu suhunannya.


Pelaksanan pengibaran bendera sewaktu proklamasi (sumber gambar: unknown)






Jadi memang beralasan sekali mengapa merah dan putih ini menjadi warna bendera kebangsaan Indonesia, dan ditetapkan secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945 di dalam UUD 1945. (Pasal berapa coba? He.he..he..saya juga lupa!)

Eh, ngemeng-ngemeng (duh, kayak Tukul aja!), bendera negara manakah yang sama dengan bendera negara kita, merah putih?

Silakan dijawab, yang jelas jawabnya jangan sambil nungging!...he.he.he..

(CP, Agustus 2009)


Berapa kalikah RI panjang umur?

“Dirgahayu Republik Indonesia Ke-64”

Begitulah tulisan pada spanduk yang terpampang di bagian atas bangunan kantor Jamsostek di seberang jalan dari sekolah anak saya, dan kebetulan saya lihat sepulang mengantar anak saya mengikut ekskul di sekolahnya hari Sabtu minggu lalu. Tulisan itu mungkin biasa saja bagi kita, karena memang kita berada dalam suasana kemeriahan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan negara kita yang ke-64.

Tiba di rumah, langsung membaca koran Kompas, saya mendapatkan 3 iklan berukuran cukup besar yang mengandung tulisan ucapan selamat ulang tahun RI dengan kata-kata yang sama atau kurang lebih serupa dengan yang tadi pada spanduk, "Dirgahayu Republik Indonesia Ke-64” dan “Dirgahayu Kemerdekaan RI Ke-64”.









Iklan 1









Iklan 2









Iklan 3

Ada yang salah memang dengan kata-kata dalam kalimat itu? Kalimat yang mungkin kita dapati tidak hanya di koran atau spanduk-spanduk di sekitar tempat tinggal kita, tetapi bisa juga di media-media lain dan juga di banyak tempat di Indonesia.
Memang iya, ada yang salah! Kalimat ini mengandung kesalahan logika, yang mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan orang akan makna kata "dirgahayu".
Lho, memangnya apa arti kata “dirgahayu” ini?

Nah, anda tahu toh! Iya, arti “dirgahayu” ini adalah “berumur panjang” atau “panjang umur”. Kalau anda belum tahu, anda bisa buka Kamus Besar Bahasa Indonesia kita, atau bisa juga kita akses kamus itu secara online dengan alamat http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
Akan tetapi saya yakin, sebagian besar di antara anda pasti sudah tahu artinya.

Sekarang coba kita ganti kata “dirgahayu" pada kalimat di atas dengan "panjang umur"!
Kalimatnya menjadi "Panjang Umur Republik Indonesia Ke-64" dan "Panjang Umur Kemerdekaan RI Ke-64"
Walah! Kok jadi aneh ya?

Memang aneh! Panjang umur kok pakai embel-embel ke-64. Berarti panjang umurnya berkali-kali dong! Panjang Umur RI Ke-1, Panjang Umur RI Ke-2, dan seterusnya yang tentu saja aneh.
Atau kedua kalimat itu bisa juga mengandung arti ada Republik Indonesia Ke-1, Ke-2, dan seterusnya hingga Ke-64. Lucu bukan!

Sebenarnya sudah berkali-kali kesalahan seperti dalam kalimat-kalimat itu diulas dan dibahas di berbagai media, baik itu media cetak maupun media elektronik. Juga di dunia blog, ada ratusan blog yang membahas kesalahan itu dan menjelaskan bagaimana seharusnya. Saya juga sudah bosan membaca ulasan dan pembahasannya, tetapi lebih bosan lagi melihat kesalahan itu masih dipamerkan juga, terutama di area-area publik atau dalam forum resmi.

Kenapa orang tetap melakukan kesalahan seperti itu? Apakah karena kekurangpedulian kita terhadap logika berbahasa? Ataukah karena kita malas untuk mengetahui arti suatu kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari? Atau mungkin anda sebenarnya tahu kesalahan itu, tapi tidak berdaya mengikuti arus kesalahan yang dilakukan oleh orang lain?

Kalau anda sudah tahu itu salah, mulai sekarang, janganlah dilakukan. Dan mulailah kita perbaiki penggunaan bahasa kita, karena bahasa yang benar secara logika dan juga benar penggunaan kata-katanya akan lebih mudah dipahami oleh orang lain dan menunjukkan bagaimana logika berpikir kita juga. Jika ada satu kata yang kurang kita pahami artinya, lebih baik kita buka kamus terlebih dahulu supaya kita jadi tahu persis artinya daripada salah menggunakannya. Semaksimal mungkin kita tidak melakukan kesalahan yang sebenarnya jelas salah!
(Nah, frasa "semaksimal mungkin" itu juga salah tuh! Masak sudah maksimal ditambah lagi mungkin! Tidak logis!...he.he.he...)
Berbahasa yang benar memang perlu konsistensi dan ketelitian.


Dari Sabang sampai Merauke
Dari Miangas sampai Pulau Rote....

Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan RI Ke-64!

Dirgahayu Republik Indonesia!
Panjang Umur Republik Indonesia!
Jayalah Bangsaku, Jayalah Negaraku.


(CP, Agustus 2009)


August 11, 2009

Columbus 2: Percaya dan Buktikan!

"Apa-apaan itu! Kalau begitu sih, aku juga bisa, dan semua orang yang hadir di sini juga bisa! Tidaaak....!" teriak orang yang tadi protes begitu melihat Columbus menjawab soalnya sendiri, memberdirikan telur tersebut. Telur itu dengan mudah bisa diberdirikan, hanya dengan sedikit mengetukkan bagian bawah telur itu ke permukaan meja, sampai ujungnya menjadi rata, karena retak

"Oh, ya? Kamu bisa melakukannya?", dengan tenang Columbus membalas protes orang itu dengan pertanyaan.

"Ya iyaaalah. Kalau begitu mah, aku juga bisa!" jawab orang itu dengan ketus, karena merasa telah dikelabui oleh cara Columbus memberdirikan telur.

"Nah, kalau kamu bisa, kenapa kamu tidak melakukannya tadi? Kenapa harus melihat dulu bagaimana aku melakukannya!" kembali Columbus menangkis serangan kata-kata orang itu.

Orang-orang bersorak-sorai, merasa gembira dengan perkataan terakhir Columbus tersebut. Mereka menyadari, bahwa semua orang juga bisa melakukan hal itu, tapi setelah melihat seseorang melakukannya. Artinya, kalau tidak ada yang memulai, tidak ada yang tahu atau tidak ada yang berani untuk melakukannya.
















Monumen Telur Columbus, di San Antonio Spanyol.
Di dalam telur itu adalah replika miniatur kapal Santa Maria, kapalnya Columbus.
(Sumber gambar: lh5.ggpht.com)



Merasa terpojokkan, orang yang tidak menerima kesuksesan Columbus tersebut menjawab pertanyaan Columbus dengan gugup,
"A..a...aku ...tidak tahu kalau telurnya boleh sedikit dipecahkan!" dengan muka memerah.

"Dengarkan! Siapapun bisa memberdirikan telur itu seperti caraku. Akan tetapi, siapa yang tahu sebelumnya dengan cara seperti itu? Kalian bisa melakukannya setelah aku menunjukkan caranya, " Columbus menjelaskan kepada hadirin dengan lantang.

"Sama juga dengan keberhasilanku dan kawan-kawanku menemukan jalan baru ke Asia. Siapapun memang bisa mencapai Asia seperti caraku, dengan berlayar ke arah Barat. Tetapi, siapa yang membuktikan pertama kali hal itu? Siapa yang berani menanggung resiko kalau terjadi sesuatu, karena selama ini kita lebih percaya bahwa bumi kita ini datar? Siapa?"

"Columbus!...Columbus!...Columbus!" hadirin meneriakkan nama Columbus. Mereka makin yakin, bahwa Columbus memang penemu jalan baru menuju Asia dan berhak atas penghargaan tinggi serta segala apa yang telah diperolehnya.

Keberanian Columbus untuk pergi ke Asia dengan berlayar ke arah barat dan mencapainya telah mematahkan kepercayaan orang Eropa saat itu bahwa bumi berbentuk datar, dan mereka menjadi sadar bahwa teori bumi sebenarnya bulat, yang hanya dipercayai segelintir orang termasuk Columbus, telah terbukti. Dengan kecerdikannya pula, Columbus bisa mematahkan serangan orang-orang yang tidak menerima keberhasilannya menggunakan sebutir telur ayam.

Anggapan bahwa bumi berbentuk datar seperti meja bundar atau kue marie, membuat orang takut untuk berlayar terlalu jauh dari daratan. Mereka khawatir jika berlayar terus, mereka bisa menuju ke pinggir bumi atau ujung dunia, dan kapal mereka akan terjerumus ke dalam jurang yang amat sangat dalam. Demikian juga pada awalnya Columbus mengemukakan idenya untuk pergi ke Asia melalui arah barat, semua orang menertawakannya, menganggap Columbus orang gila yang mau mengorbankan diri demi sebuah tujuan ngawur. Namun berkat ketekunan dan kesabarannya, disertai kemampuannya untuk mempresentasikan idenya itu secara ilmiah di depan Ratu Isabella, akhirnya Sang Ratu tertarik untuk membiayai pelayaran Columbus.

















Bumi itu datar. Kapal yang berlayar terlalu jauh hingga ke ujung bumi, akan terjerumus ke dalam jurang yang amat sangat dalam.
(Sumber gambar: starphoenixbase.com)



Columbus adalah satu di antara sedikit orang pada saat itu yang percaya akan teori bahwa bumi berbentuk bulat, makanya dia bertekad membuktikan, jika bumi bulat maka dia bisa berangkat ke Asia lewat jalan barat melalui laut tidak seperti biasa lewat jalan timur melalui darat. Dia percaya dan dia berani untuk membuktikan keyakinannya itu!

Sayangnya, meskipun tiga kali berlayar ke daerah yang dianggapnya India itu, Columbus hingga meninggalnya tidak pernah menyadari bahwa daerah yang dicapainya adalah sebuah benua besar lain. Benua Amerika!
Disebut benua Amerika, karena ada seorang petualang sekaligus ahli ilmu bumi yang menulis mengenai daerah baru yang ditemukan oleh Columbus itu. Petualang itu sadar bahwa daerah yang ditemukan oleh Columbus bukanlah India ataupun Asia, melainkan sebuah benua baru. Dari namanyalah, Amerigo Vespucci, nama benua Amerika berasal!


Bagaimana dengan Anda? Apakah anda tipe orang yang senang menjadi perintis seperti Columbus dengan berani menanggung resiko untuk sesuatu yang baru dan orang lain belum ada yang melakukannya? Ataukah anda cukup menunggu orang lain melakukan sesuatu, menemukan atau membuka jalan, baru anda mengikutinya?
Pilihannya ada di tangan anda sendiri.


(CP, Aug 2009)


August 5, 2009

Columbus: India dan Telur

Di zaman modern sekarang, sebuah pesawat ulang alik yang berkecepatan 17.500 mil per jam hanya membutuhkan hanya sekitar 90 menit untuk mengitari bumi dari luar angkasa. Sementara pada zaman dulu, Ferdinand Magellan si penjelajah Portugis membutuhkan waktu 3 tahun untuk berlayar mengelilingi dunia!

Di zaman sekarang juga, anak-anak SD sudah tahu bahwa bumi ini bentuknya bulat seperti bola. Tapi tidak dengan zaman dulu. Zaman dulu seorang ahli ilmu bumi atau seorang ilmuwan pun menganggap bahwa bumi berbentuk pipih seperti meja bundar atau seperti kue marie, apalagi masyarakat kebanyakan.

Columbus-lah yang dianggap orang pertama yang membuktikan langsung, bahwa bumi berbentuk bulat seperti bola.Pada saat itu, orang Eropa hanya mengetahui hanya ada satu jalan menuju ke negeri berperadaban tinggi, Cina dan India, yaitu ke arah timur. Mereka bisa mencapai kedua negeri itu melalui jalan darat, melalui celah bernama Khyber Pass, sebuah lembah yang berada di antara Pakistan dan Afghanistan sekarang, atau yang lebih kita kenal dengan nama Jalan Sutra (bukan Tawa Sutra ya! He.he.he..). Nah, Columbus-lah yang membuka jalan, dan membuka mata orang-orang Eropa bahwa Asia atau India pun (anggapan orang saat itu Columbus mencapai negeri India) bisa dicapai dari arah lain, dengan berjalan menuju barat lewat laut. Karena dia pula, Magellan beberapa puluh tahun kemudian menjadi orang pertama yang berhasil mengelilingi dunia.

Rute perjalanan Columbus
(Sumber gambar: www.joh.cam.ac.uk)











Karena keberanian dan keberhasilannya itu, Columbus diberi penghargaan oleh Ratu Isabella, ratu Spanyol saat itu, serta diberi kedudukan tinggi satu tingkat di bawah ratu. Dalam sebuah acara perjamuan malam kerajaan yang diselenggarakan dalam rangka menghormati Columbus, ada salah seorang yang tidak menerima dengan keberhasilan Columbus berbicara miring di depan Sang Ratu dan para hadirin. Orang itu merasa bahwa apa yang dilakukan Columbus sebenarnya bukan apa-apa.
”Lihatlah Columbus. Hanya dengan berlayar ke arah barat saja dan sampai di India, dia diberi penghargaan serta mendapat segalanya. Apa hebatnya? Toh, negeri India dari dulu juga sudah ada! Serta siapa pun yang berlayar ke arah barat, pasti akan menemukan negeri itu!”

Orang-orang yang berada di situ menjadi ribut, sebagian besar menolak ucapan itu, tapi ada juga yang bergumam menyetujui. Yang setuju tentu saja berpikiran sama, kenapa hanya dengan tiba di India Columbus dielu-elukan masyarakat dan diberi penghargaan khusus dari Sri Ratu.

Mendengar ucapan sinis seperti itu, Columbus dengan tenang membalasnya,
”Memang aku bukan menemukan India, tapi aku sudah membuka mata kalian bahwa dengan berlayar ke arah barat kita bisa tiba di India, suatu hal yang sebelumnya kalian tidak berani lakukan. Hmm....nih aku berikan soal kepada kalian semua!”

Columbus bergerak menuju ke meja di mana dihidangkan bermacam-macam makanan. Diambilnya sebutir telur ayam yang masih ada kulitnya, dan diangkatnya telur itu tinggi-tinggi. Lalu berteriaklah dia dengan lantang,
”Siapa yang bisa menaruh telur ini di atas meja dalam keadaan berdiri, aku akan berikan semua hadiah yang telah aku terima dari Paduka Ratu!”
”Namun jika kalian tidak sanggup, kalian harus mengakui, bahwa aku berhak atas semua yang telah aku terima ini.”

Kembali suasana menjadi gaduh. Orang-orang yang hadir di situ menunjuk-nunjuk orang yang tadi memulai suasana panas dengan mengeluarkan perkataan menolak keberhasilan Columbus itu. Akhirnya orang itu merasa terdesak dan dengan terpaksa dia maju menghampiri meja, lalu berusaha memberdirikan telur itu.

Sekali dia mencoba, telur itu jatuh tidak bisa berdiri. Mencoba memberdirikan lagi, jatuh lagi. Coba lagi, jatuh lagi. Hingga lebih dari sepuluh kali dia mencoba, belum bisa juga. Sulit sekali, pikirnya. Keringat dinginnya mulai keluar, dan dia merasa bahwa tantangan Columbus itu tidak mungkin dikerjakan. Akhirnya,
”Tidak bisa. Ini tidak mungkin dilakukan!” teriaknya.

Orang-orang kembali gaduh, beberapa orang mengambil juga telur-telur yang ada di hidangan dan mencobanya masing-masing. Rupanya tidak ada seorangpun yang bisa membuat telur itu berdiri.

”Sudah, sudah. Cukup!”teriak Columbus. “Sekarang lihat bagaimana caranya aku membuat telur ini bisa berdiri!”
Columbus pun mengambil lagi sebuah telur dan dengan sekali gerakan dia bisa menaruh telur itu diam di atas meja dalam posisi berdiri!

Telur ayam
(Sumber gambar: www.bonappetit.com)








Orang-orang yang melihat bagaimana Columbus menunjukkan kebisaannya bersorak-sorai. Umumnya terkagum dan gembira, merasa bahwa Columbus memang berhak atas semua yang telah diterimanya itu.

Nah, pertanyaan saya. Bagaimana caranya Columbus bisa membuat telur itu dalam posisi berdiri di atas meja?

Gampang bukan? Karena ini sebenarnya bukan tebakan, melainkan sebuah sejarah!

(CP, Aug 2009)

August 2, 2009

Jangan Remehkan Sesuatu Yang Terlihat Kecil!

Zaman dahulu di sebuah kerajaan berkuasalah Kaisar yang memiliki seorang penasehat yang sangat bijak dan sangat cerdik. Karena merasa jasa-jasa penasehatnya itu sudah banyak terhadap kerajaan, Sang Kaisar berniat untuk memberikan suatu hadiah istimewa kepadanya. Maka dipanggillah Bapak Penasehat itu. Tiba di hadapannya, Sang Kaisar mengutarakan niatnya memberikan hadiah istimewa.
“Silakan Paman sebutkan, apa saja yang Paman inginkan, akan aku usahakan sebisaku. Rumah, tanah, perhiasan, kuda, pesiar ke negeri lain atau apa saja. Jasa-jasa paman terhadapku dan kerajaan sudah sangat banyak, jadi paman berhak atas hadiah ini.”

Tidak menyangka akan ditawari hadiah “terserah” itu, bapak penasehat berpikir sejenak. Lalu dengan tenang dan sambil tersenyum-senyum, dia berkata,
“Terima kasih Baginda Kaisar, atas hadiah yang tidak disangka-sangka ini, apalagi hadiahnya hamba boleh menentukan sendiri. Hmm…hamba tidak usah diberi hadiah macam-macam. Cukuplah buat hamba beras saja, beras sebagai lambang kemakmuran negeri kita.”

“Hah..! Cuma beras??” Sang Kaisar terperanjat tidak percaya.
“ Paman hanya minta beras?...Berapa banyak yang harus aku berikan?” tanya Kaisar.

“Ampun Baginda. Hamba tidak meminta banyak-banyak. Cukup satu butir saja,” jawab penasehat, makin membuat penasaran kaisarnya.

“Haahh…satu butir?...Untuk apa satu butir?”tanya Kaisar kembali karena keheranan.

Sambil tersenyum lagi, penasehat yang wajahnya berwibawa itu menjelaskan,
“Maaf Baginda. Sebentar!....Satu butir beras saja untuk besok. Lalu hamba minta lagi 2 butir lusa. Minta dikirim ke rumah hamba. Hari ketiganya, tolong kirim beras 2 kali dari hari ke-2, yaitu 4 butir. Dan seterusnya, setiap hari jumlah butir berasnya dua kali dari hari sebelumnya. Hamba minta hingga hari ketiga puluh, jadi selama 1 bulan saja.”

“Ooh….begitu! Aku kira cuma 1 butir. Wah, hadiah istimewanya aneh sekali. Waduh, cukup itu Paman?” tanya Kaisar kembali meyakinkan.

“Cukup Baginda, itu saja permintaan Hamba,” bapak penasehat menjawabnya.

“Walah, Paman nih bagaimana! Mau dikasih hadiah istimewa, malah mintanya beras. Sedikit lagi! Tapi karena ini adalah hak Paman, aku akan kabulkan permintaan itu. Mulai besok, bapak pengawal ini akan menyediakan berasnya dari gudang beras kerajaan dan mengantarkan beras itu ke rumah Paman.” sambil Sang Kaisar menunjuk seorang pengawal setianya, yang sudah berusia setengah baya.

Mulailah esoknya pengawal kepercayaan raja itu mengantarkan hadiah berupa beras ke rumah penasehat. Satu butir saja! Dengan setengah tidak percaya, sang pengawal membawa sebutir beras itu.
“Apa-apaan ini, minta kok sedikit-sedikit! Hari ini sebutir besok 2 butir, terus lusa 4 butir. Kenapa nggak sekalian saja minta 1 karung ya?!”, pikirnya dalam hati.

Hari berikutnya, diulanglah pengantaran beras ini. Kali ini, 2 butir saja. Seperti halnya dengan hari pertama, sang pengawal bergumam,
“Ringan amat nih tugas! Hari ini 2 butir, kemarin malah cuma 1 butir. Yakh…aneh banget tuh Bapak Penasehat, meskipun beliau sangat bijak dan pandai. Tapi…gak apa-apalah, aku jadi ada kesempatan untuk tugas keluar istana. Kan lebih bebas!”

Hari ketiga, lagi-lagi sang pengawal mengantar beras yang sangat sedikit, 4 butir. “Wah, kalau tiap hari kerjaanku cuma begini, enak banget! Cuma mengambil beberapa butir beras, lalu mengantarnya ke rumah Bapak Penasehat,” pikirnya dengan gembira.

Di hari kesepuluh, mulai timbul kebosanan pada diri sang pengawal. Pada hari itu, dia harus menyiapkan beras sebanyak 512 butir. Masih ringan sih, tapi sudah terasa sulit bagi matanya yang sudah agak lamur untuk menyiapkan beras. Sehingga dia yang biasanya mengambil sendiri beras di gudang, kali ini meminta bantuan orang gudang beras kerajaan untuk membantunya menghitung.

Di hari kedua puluh lima, Sang Kaisar baru merasa sadar, dari hari ke hari, jumlah pengawal dan pegawai yang bertugas di istana terlihat makin berkurang. Kemarin-kemarin, dia merasakan hal itu tapi dia belum sempat menanyakannya ke kepala pengawal dan kepala kepegawaian istana tentang perihal itu. Di hari itu dia panggil pengawal setia, yang selama ini dia berikan tugas mengirimkan hadiah untuk penaseheat kerajaan itu, untuk menghadap. Langsung saja Sang Kaisar bertanya,
“Bapak Pengawal, kemana saja dirimu? Kok, agak jarang kelihatan? Terus pengawal dan pegawai yang lain, pada ke mana ya? Banyak yang tidak masuk?”

“Ampun Baginda, minta maaf sebesar-besarnya. Hamba menyuruh mereka untuk membantu pekerjaan hamba,” pengawal itu berusaha menjelaskan.

“Pekerjaan apa?” kembali kaisar bertanya.

“Menghitung beras!” jawab pengawal.

“Menghitung beras? Lho, bukannya itu bisa ditangani Bapak sendiri. Sedikit kan berasnya?” kaisar merasa heran.

“Ampun Baginda. Memang sedikit awalnya, tapi sekarang-sekarang sudah sangat banyak Tidak sanggup saya menghitungnya. Ini saya perlihatkan!”.
Lalu dia merogoh saku bajunya, mengambil secarik kertas berisi catatan.
“Hari ini hari kedua puluh lima kita memberikan hadiah buat Bapak Penasehat. Jumlah butir beras yang harus disiapkan adalah …..Sebentar Baginda.
Oh, ini. Hari ini 16,777,216 butir!”

“Walah, banyak banget Bapak! Kok bisa?” Kaisar bertambah heran.

“Benar Baginda, berasnya memang sangat banyak yang harus kita siapkan. Bahkan hamba tidak yakin seluruh isi gudang beras kerajaan akan cukup untuk bisa memenuhi permintaan seluruhnya. Ini saja, isi gudang kita sudah mulai menipis. Ditambah….seluruh pegawai gudang sudah hamba kerahkan untuk menghitung. Entah kalau besok, sepertinya hamba harus mengerahkan seluruh pengawal istana,” urai pengawal menjelaskan.

“Waduh, kok bisa begitu ya? Banyak amat!” Sang Kaisar baru menyadari kecerdikan penasehatnya. Awalnya dia memang terlalu memandang rendah permintaannya.

Benar kan, kalau kita tidak teliti dan sering menyepelekan sesuatu yang kelihatan kecil, bisa kurang baik akibatnya. Bahkan bisa fatal.
Yang kecil itu ternyata bisa menjadi besar. Sering kan kita mengalami seperti itu! Meremehkan sesuatu yang terlihat sepintas kecil, dan kurang teliti terhadap suatu permasalahan. Jadi selalu telitilah dengan yang kecil-kecil! Dan pintar-pintarlah mengkalkulasi angka, karena angka adalah bagian dari kehidupan kita yang sangat amat penting.

Eh, coba saya mengetes anda, berapakah jumlah butir beras yang harus disiapkan di hari terakhir? Ada yang tahu?

Nah, kalau itu tahu, coba lagi. Berapa jumlah total beras yang harus disediakan, dari hari pertama hingga hari ketiga puluh?

Pusing kan? He.he.he…

(CP, Aug 2009)



July 22, 2009

Gerhana Matahari Total...Kapan Ya Kita Bisa Merasakannya?

Sungguh penasaran saat membaca berita bahwa hari ini, tanggal 22 Juli 2009 sedang terjadi gerhana matahari total (GMT), yang kabarnya terlama di abad 21 ini. Mana, kok nggak terasa gerhananya?

Peristiwa alam yang sungguh menakjubkan ini rupanya hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang berada di belahan bumi utara, dalam garis lintasan area gerhana yang dimulai dari India, bergerak melintasi Nepal, Bhutan, Bangladesh, Myanmar, dan China sebelum berakhir di Samudra Pasifik. Katanya, GMT secara sempurna (keadaan gelap gulita) bisa dilihat di kota Shanghai, lebih dari 6 menit! Aduh, senang sekali mereka ya penduduk Shanghai, bisa benar-benar merasakan peristiwa alam yang sering tapi jarang terjadi ini.


Lintasan GMT 22 Juli 2009 (Sumber gambar: wikipedia.org)














Sementara di Indonesia?
Yang tinggal di sekitaran Jabodetabek dan pulau Jawa pada umumnya, ya wassalam! Sayang sekali, belum diberikan kesempatan untuk menikmati tanda kebesaran Allah tersebut! Belum saatnya kita menjadi saksi terjadinya GMT yang cukup lama ini. Hanya masyarakat yang berada di Indonesia bagian utara yang bisa melihat gerhana itu, dan itupun hanya gerhana sebagian. Tuh, orang Banda Aceh, anda bisa melihatnya! Juga anda yang tinggal di Kalimantan bagian Utara, Sulawesi bagian Utara, Maluku Utara dan sekitarnya. Gerhana sebagian, tidak apa-apalah, yang penting masih kebagian. Tinggal anda berharap kondisi langit cerah, supaya bisa melihat dengan jelas matahari yang tertutup bulan yang melintas tersebut. Eitt…jangan lupa pakai alat bantu yang benar-benar aman untuk melihatnya!

Gerhana matahari adalah fenomena alam yang sering terjadi, namun kejadian GMT yang cukup lama waktunya (di atas 5 menit, di satu tempat), memang sangat jarang. Seringkali waktunya hanya singkat, atau yang lebih sering terjadi adalah tempat kita berada tidak dilalui oleh bayang-bayang (bukan bayangan lho!) bulan yang jatuh ke permukaan bumi itu. Seperti di bulan Januari lalu juga terjadi gerhana, bukan GMT melainkan berupa gerhana matahari cincin, kita yang berada di sekitar Jabodetabek umumnya tidak kebagian untuk melihatnya, karena cuaca kurang mendukung. Iri rasanya mendengar warga Lampung bisa menyaksikan keindahan cincin matahari akibat gerhana itu.

Apalagi gerhana matahari sekarang. Tambah jauh lokasi kejadiannya! Paling kita bisa menyaksikannya lewat televisi, mudah-mudahan ada stasiun TV yang menyiarkannya.

Sewaktu kecil, yang saya ingat persis, saya pernah dua kali mengalami peristiwa gerhana matahari. Kedua-duanya terjadi pada saat saya masih tinggal di kota kelahiran, Bandung. Dan seingat saya, kedua-duanya tidak sampai menimbulkan suasana gelap bagaikan malam, yang artinya gerhana yang dialami hanya gerhana sebagian.

Sewaktu pengalaman pertama, saya melihat di beberapa tempat sekitar rumah saya, ada orang-orang yang memukul lesung pada saat kejadian gerhana. Tung..tung..tung! Katanya, itu untuk mengusir raksasa yang hendak memakan matahari tersebut. Mitos itu masih melekat pada sebagian masyarakat saat itu (di era tahun 70an), bahwa matahari yang tertutupi benda hitam adalah sedang dimakan raksasa (Waduh!).

Maklumlah, saat itu orang yang memiliki televisi belum begitu banyak, surat kabar pun masih sedikit orang yang berlangganan. Pengetahuan modern belum menyentuh mereka, ditambah lagi adalah mereka menjalan tradisi, yang belum tentu mereka tahu untuk apa mereka melakukan hal itu.

Yang kedua adalah di tahun 1983, GMT yang juga cukup lama, sekitar 5 menit. Keadaan saat itu cukup gelap, meskipun tidak segelap di malam hari. Bagaikan seorang peneliti (he..he..he..biarpun masih anak-anak), ada dua hal yang saya lakukan saat itu, terinspirasi dari bacaan di surat kabar dan majalah. Pertama adalah mengamati tanaman putri malu, dan kebetulan di sekitar rumah masih banyak tanah kosong, banyak ditumbuhi oleh tanaman putri malu. Seperti kita ketahui, selain tersentuh atau tergerakkan, tanaman tersebut juga akan menunduk di malam hari. Nah, apakah pada saat kegelapan gerhana tanaman tersebut juga tertunduk malu? Ternyata yang saya lihat memang si putri sedikit malu, sedikit menguncupkan daun dan menundukkan tulang-tulang daunnya. Sepertinya perlu keadaan gelap yang agak lama untuk membuat si putri benar-benar malu…he..he..he..


Tumbuhan Putri Malu (Mimosa pudica, sumber gambar: id.wikipedia.org)








Satu lagi yang saya lakukan saat itu adalah mengamati ayam-ayam yang sedang berkeliaran, yang kebetulan juga ada tetangga yang memelihara. Ayam-ayam yang sehari-harinya dilepas itu biasanya jika senja tiba, suasana sudah sedikit gelap, mereka akan pulang sendiri ke kandangnya. Nah, apakah pada saat gerhana juga mereka pulang? Pengamatan saya, ternyata mereka terlihat kebingungan, antara mau kembali ke kandang dan tetap bermain (he..he..he..kayak anak-anak saja!) serta berkeliaran mencari makan. Barangkali jam tubuh mereka bilang, belum saatnya mereka masuk kandang. Tapi langit kok sudah terlihat gelap ya?

Benar-benar menarik, dan sebenarnya banyak yang bisa kita pelajari dan kita amati di sekitar kita, selain mengamati langsung kejadian di langit (Sekali lagi, melihat kejadian di langit tidak boleh dengan mata telanjang. Harus memakai alat bantu yang benar-benar aman, karena katanya alat bikinan sendiri juga umumnya masih beresiko).

Gerhana ini juga mengingatkan saya, dulu pernah membaca buku cerita, karangan Mark Twain kalau tidak salah. Kisah seorang Amerika yang kita sebut saja Yankee, dalam suatu kejadian dia pingsan, ketika sadar tiba-tiba dirinya terdampar di masa ratusan tahun yang lalu di negeri Inggris, di zaman Raja Arthur berkuasa. Si Yankee itu telah mengalahkan penyihir kerajaan Merlin dengan mengandalkan pengetahuan dan teknik ilmu modern. Pada saat dia akan mengalami hukuman dibakar hidup-hidup di tengah-tengah alun-alun kerajaan, dia berteriak lantang kepada sang raja dan orang-orang yang menyaksikan, bahwa dirinya bisa menggelapkan matahari. Kebetulan, pada saat sebelum pingsan dan berpindah masa, Yankee membaca berita di koran bahwa besoknya akan terjadi gerhana matahari total, dan ternyata memang, beberapa saat setelah tantangan dia itu, matahari pun berangsur-angsur gelap. Sang raja dan orang-orang yang melihat matahari tiba-tiba menghitam dan gelap tiba-tiba datang, memohon-mohon agar matahari segera dikembalikan. Akhirnya dia lolos dari hukuman, bahkan akhirnya dia menjadi orang kepercayaan Raja Arthur.

He..he..he..meskipun itu cuma fiktif, tapi sungguh menarik ceritanya.

Kapan ya kita mengalami langsung gerhana lagi, gerhana matahari total sempurna sampai suasana gelap gulita? Mudah-mudahan kita masih diberi umur untuk menyaksikan GMT berikutnya. Amin.

Menurut perhitungan NASA, tahun depan pun akan terjadi GMT. Di Indonesia kebagian?

Sepertinya tidak. Hmmm…..sayang sekali!

(CP, Jul 2009)

Catatan: Nih, ada link kalender terjadinya gerhana matahari maupun bulan dari NASA! http://eclipse.gsfc.nasa.gov/eclipse.html


July 19, 2009

Antara Rasa Kecewa dan Nasionalisme

Jumat pagi, saya membaca email dalam sebuah milis, yang menginformasikan bahwa ada ledakan bom di hotel JW Marriot, baru saja terjadi. Nggak salah nih? Saya cek kembali tanggal emailnya, khawatir ini adalah berita beberapa tahun yang lalu. Tanggal hari ini. Beberapa saat kemudian ada email lain, menyatakan bahwa bom itu terjadi bukan di JW Marriot, melainkan di hotel Ritz Carlton, di mana tim klub MU yang akan berlaga di Senayan akan menginap. Dhuarrr! Kaget juga mendengar kabar itu, lalu sesaat saya mengecek ke Detiknews. Rupanya memang telah terjadi 2 ledakan bom dengan selang waktu tidak lama, di dua hotel tersebut.


Seperti mimpi rasanya, mendengar kabar kepastian bahwa klub sepakbola dunia Manchester United batal berlaga di Senayan. Bagaimana tidak, berbagai persiapan sudah dilakukan oleh panitia





July 12, 2009

Antara Rest Room dengan Jamban

Tahun 2003 di awal masuk ke perusahaan tempat kerja saya sekarang, saya mendengar ada satu ruangan di perusahaan saya yang disebut Rest Room. Pikiran saya langsung membayangkan, pasti Rest Room seperti di hotel-hotel atau restoran berbintang. Di tempat-tempat itu, Rest Room merupakan jamban atau kakus atau sekarang kita lebih mengenalnya dengan sebutan toilet. Karena di tempat mahal kali ya, makanya orang nyebutnya lain! Padahal fungsinya kan sama.

Orang Barat memang menyebut jamban/kakus itu dengan sebutan yang sangat terhormat “rest room” (yang arti harfiahnya adalah tempat istirahat) karena jamban/kakus di mereka diperuntukkan untuk melepas penat dan membuang (maaf) yang sebelumnya ditahan-tahan. Sehingga mereka membuat ruangan itu benar-benar nyaman, wangi, bersih dan terawat, serta selalu tersedia segala fasilitasnya seperti cermin, wastafel, sabun pencuci tangan, tissue, pengering tangan, tempat sampah dan lain-lain.

Kembali ke Rest Room-nya tempat kerja saya. Ternyata belakangan kemudian saya baru menyadari bahwa Rest Room itu diisi oleh para driver, alias ruangan itu tempat para driver standby menunggu tugas. Singkatnya ruang itu memang lebih tepat disebut Ruang Driver (Driver Room).

Lho, kok ruangan driver disebut Rest Room?
Melihat dalamnya ruangan, saya menduga-duga, barangkali ruangan itu disebut Rest Room karena terdapat bagian ruangan yang dipakai sebagai tempat tidur (?, berfungsi sebagai mushola juga). Nah, berarti kan tempat istirahat!

Atau memang karena ada toilet/WC-nya? Toilet atau WC kan disebut Rest Room seperti saya singgung di atas!
Mudah-mudahan dasar penyebutan Rest Room itu karena alasan yang kedua, bukan karena alasan pertama!
Istilah yang mungkin tidak salah tapi kurang tepat! (he..he..he..)

Lebih lanjut, ngomong-ngomong mengenai toilet, asal kata toilet ini adalah dari bahasa Inggris yang berarti ruangan untuk buang air (atau “buang hajat”, maaf saya tidak tahu istilah mana yang lebih sopan) atau sebutan untuk alat untuk buang air, yang dalam hal ini berarti kloset (baik jongkok maupun duduk) atau urinoir (tempat pi* itu lho!).


Urinoir, dengan sedikit keisengan pengelolanya (sumber gambar: aromic.free.fr)









Ada juga yang menyatakan bahwa toilet berasal dari bahasa Perancis, sehingga jangan heran jika ada di antara kita yang melafalkan toilet ini “toale” (sambil suaranya di-sengau-kan supaya lebih keliatan French-nya, he..he..he…)

Bagaimana dengan WC?

Sebenarnya, istilah WC ini berasal dari istilah bahasa Inggris “Water Closet” yang disingkat WC. Akan tetapi singkatan WC ini sudah menjadi istilah tersendiri di beberapa bahasa Eropa, dan salah satunya adalah bahasa Belanda, negara yang pernah menjajah kita sehingga mereka menularkannya kepada kita. Orang Belanda melafalkannya “waysay”, sementara lidah orang kita menyebutkannya “wese”. (simpel banget ya?)

Orang Inggris sendiri hampir tidak pernah menyebut WC untuk toilet. Makanya aneh kalau ada istilah ”double yu si”.

Bagaimana dengan orang Indonesia?

Ada yang menyebut WC, ada yang menyebut kamar mandi, kakus, jamban, “aer” (Bukan “air”, seperti contoh:” Maaf, saya mau ke aer sebentar”). Atau juga istilahnya sering dihaluskan dengan sebutan “belakang”, atau pun “kamar kecil”. Silakan anda menggunakan istilah yang paling anda suka! (he..he..he..)

Sebagai petunjuk/identitas ruangan toilet umum, di depannya biasanya ada istilah/identitas yang menunjukkan bahwa ruangan itu adalah toilet umum. Identitas itu berupa tulisan “MEN” atau “GENTS” dan “WOMEN” atau “LADIES”. Istilah ini dipakai untuk memisahkan ruangan toilet berdasarkan gender/jenis kelamin yang memakainya. Kenapa dipisah? Tanya tuh kepada kaum wanita? Kalau buat laki-laki, kayaknya fine-fine aja digabung juga…..(Hush…becanda!)

(sumber gambar: www.istockphoto.com)






(sumber gambar: albumo.com)










Istilah di atas biasanya digunakan di tempat-tempat seperti hotel, restoran, bandara, kantor perusahaan asing. Sementara di terminal bis, di pasar, atau di tempat-tempat umum lain, cukup tulisan “WC LAKI-LAKI” dan “WC WANITA”. (ditambah tulisan “BUANG AIR KECIL RP 1000, BUANG ….stop! tidak usah dilanjutkan…he..he..he..)

Banyak juga pemisahan ruangan berdasarkan gender untuk toilet umum hanya ditandai dengan logo/gambar orang dengan bentuk badan segitiga untuk wanita dan badan lurus untuk laki-laki. Kenapa untuk wanita gambarnya segitiga ya? Oooh…itu mungkin karena wanitanya dianggap pakai rok. Kalau nggak pakai rok?...Silakan jawab sendiri!

Toilet kering (dry toilet)?

Di Indonesia, jarang ditemukan toilet yang benar-benar memenuhi kriteria sebutan toilet kering, mengingat budaya orang Indonesia yang tidak bisa lepas dari air dalam aktivitas di toilet. Di toilet kering beneran, siap-siap saja untuk merasa tidak enak. Pasalnya, di toilet kering, tidak ada shower/semprotan air untuk ”cebok” (maaf) sehabis BAB, apalagi ada ember dan gayung!

Saya punya pengalaman dengan toilet kering ini. Karena terpaksa sudah di ujung tanduk dan tidak ada lagi toilet basah, saya pernah menggunakan toilet jenis ini. Aduh, setelah selesai. Ampyuuun deh! Cuma pake tissue buat bersih-bersihnya. Tissuenya memang selalu tersedia, tapi karena kita orang Indonesia sudah terbiasa dengan air untuk pembersih, ya gitu dechhh!

Nggak terasa cebok (maaf) begitu keluar dari toilet...ha..ha..ha..(jadi malu sendiri)

Automatic Urinoir?

Ada hal lain. Umumnya urinoir di kita ada tombol buat pembilas/penyiramnya (flush). Nah jadi kita, untuk yang muslim, pada saat air penyiramnya keluar, kita juga melakukan istinjak (membersihkan ... sehabis buang air). Di negara maju, banyak yang urinoirnya sudah tidak menggunakan tombol lagi, jadi pembilasnya akan bekerja sendiri dengan menggunakan sensor. Di kita urinoir jenis ini juga sekarang sudah mulai banyak, di toilet umum hotel-hotel bintang atau di toilet restoran berbintang atau juga di toilet perusahaan multinasional!

Saya punya pengalaman lucu sewaktu pertama kali menggunakan urinoir jenis ini, dulu waktu di Jepang. Maklum masih kampungan, belum biasa alat-alat yang otomatis. Pada saat BAK, belum sepenuhnya selesai BAKnya air flush sudah menyiram. Akhirnya waktu selesai BAK, karena kita masih perlu air buat istinjak, ya kita menjauh dulu dari situ supaya sensornya bekerja dan balik lagi untuk mengambil air. Tentu saja dengan risleting celana masih terbuka dan ....he..he..he..(malu!)

Sialnya, satu kali mundur terus balik lagi, airnya belum keluar. Sekali lagi mundur dan mendekat lagi, belum keluar juga. Akhirnya setelah mundur dan maju yang ketiga, bisa keluar juga air pembilasnya. Syukur deh...aman dan saya bisa menunaikan kewajiban istinjak.

Cuma, malu banget diliatin orang2 di sekitar. Mungkin disangkanya lagi ngapain orang ini. Ha..ha..ha..

Selanjutnya, saya tahu trik menghadapi urinoir jenis ini. Cukup miringkan badan anda ke kiri atau ke kanan (sesuai arah sumber cahaya), dan kembali lagi ke posisi semula, air flush itu akan ngocor keluar.

Anda pernah mengalami kejadian serupa? Mudah-mudahan tidak. He..he..he..



(CP, Maret 2008)

July 10, 2009

Saya Tidak Korupsi?

Belum lama ini ada seorang mantan pejabat yang divonis hukuman penjara 4 tahun karena terbukti melakukan korupsi (beritanya ada di sini). Suatu hal yang mungkin tidak disangka-sangka sebelumnya oleh yang bersangkutan, bahwa akibat tindakannya pada saat menjabat bisa sampai seperti itu. Mungkin karena beliau merasa itu sudah biasa di lingkungannya, atau juga mungkin karena merasa itu bukan tindakan korupsi.

Beberapa waktu yang lalu juga ada seorang pejabat pemda mencalonkan diri menjadi gubernur sebuah provinsi di Indonesia, dalam satu acara debat yang disiarkan di layar televisi, ada seorang di antara audience yang bertanya kepada beliau, "Saya tahu dari mulai lulus kuliah hingga menjabat sebagai Wagub, Bapak berkarir di Pemda. Dan Bapak sekarang memiliki harta yang menurut ukuran orang Indonesia sangat banyak. Pertanyaan saya, dari sekian banyak harta Bapak yang sekian puluh M itu, apakah Bapak yakin tidak ada yang diperoleh dari hasil korupsi?"

Bapak tersebut sempat terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Tidak ada!"

Sekarang saya tanya kepada kita semua, apakah kita percaya jawaban atas pertanyaan itu?. Meskipun agama kita menyuruh agar kita tidak sudzon kepada sesama, "Okelah itu memang rizki yang diberikan Allah kepada beliau", namun dalam hati kecil sulit menerima kenyataan seorang pejabat (bukan pengusaha, dan pejabat kan tidak boleh menjadi pengusaha) bisa memiliki harta hingga puluhan M. Astaghfirullah, maafkan hambamu ya Allah! Bisa saja beliau memang punya orang tua yang kaya raya dan mewariskan kekayaannya kepada beliau.

Kebanyakan orang kita (orang Indonesia) merasa tidak melakukan korupsi. Pehamaman korupsi yang ada di benak sebagian besar orang kita, korupsi adalah memakan langsung uang yang bukan haknya, misalnya uang perusahaan atau uang negara. Tapi jika menerima pemberian uang atau barang dari pihak lain, kita tidak merasa melakukan korupsi.

Padahal, korupsi yang paling banyak terjadi di Indonesia, adalah yang jenis seperti itu. Kongkalikong antara pejabat publik dengan pengusaha, dalam meloloskan proyek atau memenangkan tender. Proyeknya lolos, pengusahanya senang. Saking senangnya si pejabat ditraktir atau diberikan hibah (istilah yang sering digunakan seseorang untuk berdalih dari mana hartanya berasal) barang ataupun uang. Si pejabat tidak meminta uang ke si pengusaha, jadi dia tidak merasa melakukan korupsi. "Orang dikasih kok! Siapa suruh ngasih duit?", pikirnya seperti itu.

Tapi apakah hal seperti itu merugikan negara? Tentu saja! Karena menimbulkan High Cost Economy.

Dulu pernah ada kasus pengadilan di Singapura antara BUMN pengelola minyak kita Pertamina dengan janda seorang mantan Direkturnya, Kartika Thaher. Kartika Thaher mengajukan pembelaan, uang warisan suaminya bukan dari hasil korupsi, karena itu semuanya adalah pemberian dari pihak lain. Sementara Pertamina menggugat, pemberian dari pihak lain itu adalah sebenarnya untuk Pertamina, jadi merupakan korupsi juga. Alasan Pertamina, pemberian itu dilakukan karena suami Kartika ini saat itu menjabat sebagai direktur Pertamina.
(Memang benar sih, coba kalau kepada orang biasa, tidak usah jauh-jauh, sayalah misalnya, mana ada perusahaan yang mau memberikan hibah uang, apalagi dalam jumlah besar!)
Argumentasi itu akhirnya diperdebatkan di pengadilan Singapura, dan Alhamdulillah (sampai saat ini bagi kita Singapura masih kurang kooperatif terhadap Indonesia kalau menyangkut kejahatan korupsi), pengadilan sana memenangkan gugatan pihak Pertamina. Akhirnya asset kekayaan sang mantan direktur itu ditarik dari bank Singapura kembali ke Indonesia.

Sayangnya, argumentasi Kartika Thaher saat itu masih dipakai oleh sebagian oknum warga negara kita hingga kini, yang tidak merasa melakukan korupsi tapi sebenarnya merugikan. Di tengah upaya keras KPK menjaring para penjahat korupsi, suasana seperti itu (kongkalikong atau pun pungli atau pun pelicin atau balas budi pimpinan daerah terhadap bekas tim suksesnya atau apapun namanya) bisa terlihat di kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari saat mengurus KTP, mengurus SIM, passport, dokumen bea cukai, memasukkan barang ke perusahaan dan lain-lain yang sangat banyak, tidak lepas dari "pemberian" yang mungkin ikhlas tidak ikhlas ini.
Sementara yang menerima pun, merasa tidak meminta. Juga tidak merasa mengambil uang negara/perusahaan.
Hanya, kalau tidak diberi, kenapa jadi lambat ya pengurusannya? Kenapa jadi susah memenangkan tendernya? Kenapa customer kita pindah ke supplier lain? Kenapa pelanggaran dibiarkan kasat mata terjadi tanpa tindakan nyata dari aparat? Dan lain-lain yang pasti Bapak Ibu pernah merasakannya

Selama korupsi masih merajalela di segala lini kehidupan bangsa dan negara kita, mustahil kemajuan dan kesejahteraan bisa kita raih. Pimpinan yang sekuat apapun, yang sebersih bagaimanapun, tanpa didukung aparatnya, tanpa didukung rakyat dan warganya, adalah mustahil menghilangkan budaya korupsi yang sudah mendarah-daging.
Perbaikannya, kembali pada diri kita masing-masing. Dimulai dari kita sendiri. Bisakah?
Coba periksa diri kita, adakah sebagian penghasilan kita yang berasal dari pemberian ikhlas tidak ikhlas dari orang lain?


Majulah bangsaku, berantaslah korupsi!
(CP, Jul 2009)