Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tuesday, May 14, 2013

Everything At Once, Susahnya Menghapal Segalanya

Bagi anda, yang menggemari dan menonton acara X Factor Indonesia di layar televisi pada hari Jumat lalu, pasti tahu kejadian Fatin Shidqia saat dia tampil di atas panggung lupa akan lirik lagu yang sedang dinyanyikannya.

 

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu tertarik dengan acara televisi sejenis ini, hanya saja kebetulan saya ikut melihat kejadian tersebut saat istri saya menonton acara X Factor Indonesia di malam itu. Karena bagi saya kejadian itu unik dan menarik, saya menjadi tergelitik (berarti geli ya?) untuk sedikit mengulasnya.

 

Anda tahu kan lagu yang dinyanyikan Fatin waktu itu?

 

Ya, lagu "Everything At Once", yang aslinya dinyanyikan oleh biduan dan penulis lagu asal Australia, Lenka. Lagu ini sudah akrab di telinga kita, karena sering diperdengarkan di televisi mengikuti tayangan iklan jendela-jendela 8...eh, Windows 8. Melodi yang ceria, dengan tempo yang cepat, dan larik-larik lagu yang terdengar pendek, membuat lagu ini cukup enak didengar. Paling tidak buat telinga sebagian besar dari kita.

 

"...All I wanna be, all I wanna be, oh...
All I wanna be is everything
..."

 

Pasti bagian ini dari lagu tersebut yang paling kita ingat dan membuat mulut kita secara otomatis mengikutinya saat mendengar alunannya.

 

Karena lagu "Everything At Once" ini populer dan masuk di karakter suara Fatin, Rossa sebagai mentor Fatin mendukung penyanyi remaja berjilbab tersebut untuk menyanyikannya pada kesempatan di hari itu. Sebagaimana lagu-lagu lain pada tahapan sebelumnya yang sebagian besar sukses dinyanyikan, sehingga Fatin mendapatkan sambutan meriah dari hadirin maupun respon positif dari publik televisi, lagu itu tentu saja diharapkan memperkuat posisi Fatin dalam perebutan juara satu X Factor Indonesia. Namun siapa nyana, ternyata Fatin gagal menyanyikan lagu tersebut dengan utuh, karena dia lupa akan sebagian liriknya. Selesai bernyanyi, air mata bercucuran dari mata penyanyi berwajah imut ini, karena merasa sedih dengan kegagalannya menyanyikan lagu di tahap Grand Final yang menyisakan tinggal 3 peserta .

 

fatin

Menangis karena tidak hapal...(sumber gambar: klik)

Kenapa Fatin sampai lupa lirik lagunya? Apakah dia kurang konsen?

 

Yakh...mungkin saja.

 

Saya sendiri yang sudah sering mendenganr lagu ini cukup penasaran, sebenarnya seperti apa sih lirik lagunya. Anak saya, Sasha, sempat tertawa saat besok paginya saya beri tahu kejadian itu. Dia memang suka juga acara tersebut.

"Dih...masak lagu gampang aja, sampe lupa nyanyiinnya?" sambil tertawa Sasha berkomentar.

 

Lho, memang lagunya gampang?

 

Saya cari liriknya, dan ini dia:

 

As sly as a fox, as strong as an ox
As fast as a hare, as brave as a bear
As free as a bird, as neat as a word
As quiet as a mouse, as big as a house

All I wanna be
All I wanna be, oh
All I wanna be is everything

As mean as a wolf, as sharp as a tooth
As deep as a bite, as dark as the night
As sweet as a song, as right as a wrong
As long as a road, as ugly as a toad

As pretty as a picture hanging from a fixture
Strong like a family, strong as I wanna be
Bright as day, as light as play
As hard as nails, as grand as a whale

All I wanna be, oh
All I wanna be, oh
All I wanna be is everything


Everything at once
Everything at once, oh oh oh
Everything at once

As warm as the sun, as silly as fun
As cool as a tree, as scary as the sea
As hot as fire, cold as ice
Sweet as sugar and everything nice

As old as time, as straight as a line
As royal as a queen, as buzzed as a bee
As stealth as a tiger, smooth as a glider
Pure as a melody, pure as I wanna be

All I wanna be, oh
All I wanna be, oh
All I wanna be is everything
Everything at once

Hehehe...cukup menarik juga lagu ini dijadikan materi pelajaran Bahasa Inggris bagi anak-anak.

Simpel kata-katanya, pendek-pendek kalimatnya, dan bahasanya (Inggris) mudah. Kalimat-kalimat yang menggunakan rima dilagukan dengan menghentak-hentak ceria, membuat lagu ini enak didengar.

 

Sekarang kita coba mengartikannya. Dari kata-katanya, contoh:

 

As sly as a fox, as strong as an ox -- Cerdik bagaikan rubah, kuat bagaikan banteng
As fast as a hare, as brave as a bear -- Gesit bagaikan kelinci, perkasa bagaikan beruang

As free as a bird, as neat as a word -- Bebas bagaikan burung, rapi bagaikan kata

As quiet as a mouse, as big as a house -- Diam bagaikan tikus, besar bagaikan rumah

All I wanna be, all I wanna be, oh.. -- Yang kuinginkan, yang kuinginkan oh..
All I wanna be is everything -- Yang kuinginkan adalah menjadi segalanya

dan seterusnya...

 

Seperti itu. Namun saya belum bisa menyelami arti keseluruhannya. Apakah maksud isi lagu ini merupakan keinginan dari penciptanya, yang ingin dirinya sempurna? Ataukah karena lagu ini dibuat untuk iklan Windows 8, yang artinya pembuat sistem operasi komputer ini ingin segalanya, ingin menjadi segalanya dan mencapai segalanya? (yang memang jago maen monopoli, eh monopoli beneran)

 

Terlepas dari makna isinya, ternyata untuk menghapal lirik lagu yang cukup enak didengar ini, cukup susah juga, setidaknya buat saya. Kata-kata yang mirip, namun berbeda-beda, serta kalimat-kalimat yang sejenis namun sebagian besar tidak diulang, membuat otak kita (kiiita? saya kali) sulit mengingat keseluruhan lagu. Apalagi kata-kata bahasa Inggris yang pelafalannya membuat lidah kita sibuk dan sering keselipet.

 

Bagi saya lagu ini enak didengar, tapi sulit untuk diikuti apalagi dihapal.

Butuh daya ingat kuat, konsentrasi, dan tentunya pemahaman bahasa Inggris yang cukup.

 

Makanya saya maklum Fatin sampai lupa lirik lagu tersebut, apalagi kalau waktu untuk menghapalnya terbatas, dan penguasaan bahasa Inggris dia masih kurang.

 

Anda, atau anak anda deh (kalau anda merasa tantangan saya 'kurang kerjaan'), mau mencoba menyanyikannya?

 

Hehehe...sambil belajar bahasa Inggris lho...

 

 

Salam,

CP

Selengkapnya...

Thursday, April 25, 2013

Berkunjung ke Museum Zoologi dan Kebun Raya Bogor

Ke mana anda bersama keluarga menghabiskan liburan akhir pekan?

Sebagai satu pilihan, anda bisa mengajak anak-anak anda berjalan-jalan ke kota Bogor dan berkunjung ke Museum Zoologi di sana. Museum Zoologi? Ya, museum tersebut berlokasi di dalam kompleks Kebun Raya Bogor dan merupakan salah satu objek yang wajib dikunjungi jika anda memasuki landmark Kota Hujan tersebut.

Sewaktu saya kecil, saya bersama keluarga pernah diajak almarhum ayah saya berkunjung ke Museum Zoologi ini. Mengesankan sekali saat itu saya rasakan saat mengunjungi museum tersebut dan saya masih ingat apa dan bagaimana objek-objek yang dipamerkan di dalamnya. Kali ini, saya mengajak anak-anak saya, Andra dan Sasha, mengunjungi tempat yang sama. Harapan saya, museum tersebut kini tetap menarik dan makin bertambah koleksinya dibanding waktu dulu, serta tentu saja jalan-jalan wisata ini akan bermanfaat bagi mereka. Selain untuk mengisi waktu libur, pengalaman dan wawasan mereka pun akan bertambah.

Untuk berkunjung ke museum, kita harus masuk melalui gerbang masuk Kebun Raya Bogor. Lokasi Kebun Raya-nya sendiri sangat mudah dicapai, tidak jauh dari lampu merah pertama begitu kita keluar tol Bogor. Masalahnya adalah pintu masuk Kebun Raya (untuk umum) tidak jelas ada di mana. Sementara petunjuk jalan yang ada di beberapa lokasi kurang menunjukkan di mana sebenarnya lokasi pintu masuk yang kita butuhkan itu (lho, memang kita butuh pintu masuk?).

Persoalan kurangnya petunjuk jalan itulah yang kami alami, yang akhirnya membawa kami pada kesesatan jalan…hehehe…maksudnya nyasar saat kami mencari gerbang masuk Kebun Raya. Saat sebelum berangkat, saya sempat gugling untuk mencari rute menuju ke sana. Di hasil pencarian gugel, saya tidak menemukan rute yang menunjukkan arah menuju Kebun Raya Bogor. Tidak ada situs atau isi suatu situs yang memberikan petunjuk jelas. Bahkan situs resmi milik pemkot Bogor pun tidak memberi petunjuk (Aneh banget…!) menuju tempat penting tersebut. Petunjuk ada di beberapa situs pariwisata, hanya saja patokannya dari Stasiun KA Bogor, dan itu pun kalau kita naik angkot. Hehehe…enak yang naik angkot dong!

Pengguna angkot, dari stasiun naik angkot dengan trayek nomor 02 atau 03, dan silakan nikmati perjalanan angkot hingga angkot melintasi tepat di depan Museum Zoologi dan juga gerbang masuk Kebun Raya. Sangat simpel sekaligus tidak memberikan petunjuk bagi pengguna kendaraan yang lain.

Sebagai catatan, di gugel mep, arah menuju Kebun Raya Bogor sangatlah mudah. Kalau kita jalankan fungsi directions, gugel memberikan arah sangat simpel. Keluar tol, bertemu dengan pertigaan (perempatan sebenarnya), belok kanan sampai perempatan berikutnya lalu belok kiri. Tidak begitu jauh dari perempatan tersebut kita sudah tiba di pintu masuk Kebun Raya.

Hanya saja direction yang diberikan itu menyesatkan, karena ternyata kita tidak bisa belok kanan untuk memasuki Kebun Raya, terhalang oleh median jalan dan kita mau tidak mau harus mengikuti jalan yang ada, yang kalau kita ikuti terus malah menjauh dari tujuan. Ini yang membuat kami sempat salah arah, dan harus berputar lumayan jauh untuk kembali ke jalan yang benar (tadi jalan sesat ya?).

Jadi supaya anda tidak ikut-ikutan sesat seperti kami jika berkunjung ke sana, saya berikan rute dalam cuplikan peta gugel. Silakan anda ikuti tanda panah merah hingga tujuan akhir trapesium hijau di peta.

Putari dulu Kebun Raya, maka kita akan menemukan pintu masuk

Dari ujung jalan tol, tentunya Jalan Tol Jagorawi dan kita keluarnya di pintu tol Bogor, kita usahakan berada di lajur kanan menjelang pertigaan lampu merah. Saat lampu menyala hijau, ambil jalan ke kanan (jalan ini adalah Jalan Pajajaran, jalan utama di Kota Bogor). Sekitar 200 meter sesudahnya, kita akan bertemu dengan perempatan lampu merah, di mana di tengahnya terdapat Monumen Kujang yang perkasa namun kurang bermakna (Kujang ini bukanlah merek semen atau pun pupuk, melainkan senjata pusaka dari Kerajaan Pajajaran, yang pusatnya dulu berada di kota ini). Di perempatan ini, kita ambil jalan lurus. Jangan belok kiri! Sekali lagi, jangan belok kiri.

Begitu kita lepas dari perempatan tadi, di sebelah kiri kita sudah merupakan area Kebun Raya Bogor. Dari sini kita tinggal menyusuri pinggiran Kebun Raya itu. Ikuti terus seperti kita berjalan di dalam labirin, dengan pagar Kebun Raya di sebelah kiri kita, secara berlawanan arah jarum jam. Jangan sekali-sekali tergoda untuk mengambil arah ke kanan…Smile

Nanti kita memasuki Jalan Ir. H. Juanda (mungkin kita bingung dengan nama jalannya karena belum tentu kita bisa menemukan plang namanya, yang penting ikuti Kebun Raya Bogor di sisi kiri kita) yang merupakan alamat dari Museum Zoologi Bogor, namun pintu masuk untuk kita bukan berada di jalan ini. Gedung Museum Zoologi sudah terlihat, namun lanjutkan saja hingga kita belok kiri memasuki Jalan Otto Iskandardinata, yang dicirikan dengan adanya deretan toko-toko di sisi kanan jalan. Jalan terus sekitar 50 meter, hingga kita menemukan pintu gerbang dengan tulisan KEBUN RAYA BOGOR PINTU 1. Horeee...akhirnya dapat juga pintu masuknya!.

Pintu tersebut diperuntukkan untuk kita yang menggunakan kendaraan, dan ada petugas yang mengarahkan kita untuk masuk (Catatan: Untuk pengunjung yang berjalan kaki, tersedia pintu masuk yang terpisah). Kami pun masuk dan berhenti di depang gardu tiket. Bayar dululah...

Petugas jaga menghitung jumlah kepala kami. Satu, dua, tiga, empat. “Empat!”. Dia pun menyebutkan berapa uang yang harus dibayar untuk tiket pengunjung dan tiket kendaraan masuk. Harga tiket masuk untuk pengunjung adalah Rp 14.000 per kepala dan tiket kendaraan masuk adalah Rp 30.000. Dengan tiket itu, pengunjung sudah bisa masuk ke dalam Museum Zoologi secara gratis (seingat saya dulu, tiket masuk museum bayarnya tersendiri, dan pengunjung masuk langsung dari jalan raya) dan kendaraan kita bebas berputar-putar di area Kebun Raya. Siip dah...

Jalan sekitar 50 meter dari lokasi itu, kami berjumpa dengan perempatan. Ada papan petunjuk, Museum Zoologi belok kiri. Ya sudah, kami pun belok ke kiri, dan tidak jauh dari situ sudah terlihat bentuk bangunan museum. Saya pun memarkir kendaraan tidak jauh dari gedung tersebut, di atas rumput. Lokasi parkir kendaraan tidak dibuat secara khusus dan tidak ada petugas parkir, jadi kita cukup parkir mengikuti kendaraan-kendaraan yang lebih dahulu parkir di sana. Untung tertib saat itu, tidak ada kendaraan yang parkir nyeleneh.

Masuklah kami ke dalam gedung museum. Gedung yang berarsitektur gaya Belanda, bertembok kokoh dengan pintu dan jendela yang tinggi-tinggi dan lebar-lebar, ini memang pantas menjadi museum bagi koleksi beraneka ragam fauna Indonesia. Di pintu masuk kami disambut oleh 4 kerangka hewan. Hewan apa saja ya?

kerangka

Empat rangka hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk

Sesuai dengan namanya, zoologi yang berarti ilmu tentang dunia hewan/satwa, museum ini memperagakan koleksi beraneka ragam fauna Indonesia, berupa tubuh asli satwa yang diawetkan maupun replikanya. Satwa yang sudah mati, diawetkan dan dijadikan model peraga, Dan di sekitar model satwa tersebut, di dalam ruang kaca seperti aquarium, dibuat suasana yang sangat mendekati kondisi lingkungan asli tempat tinggal satwa itu, lengkap dengan pepohonan, bebatuan, dan lain-lain. Seolah-olah satwa tersebut masih hidup, kita bisa melihatnya langsung di tempat tinggal aslinya. Dari situ, kita bisa mengenal bentuk rupa, perilaku, serta bagaimana kehidupan satu jenis satwa dan ekosistemnya.

Koleksi satwa-satwa dalam ruang-ruang kaca tersebut diletakkan dan dikelompokan sesuai jenisnya dalan beberapa ruangan besar. Ada ribuan jenis serangga, ratusan reptil, ikan, mamalia, unggas, dan satwa lain yang termasuk kelompok invertebrata baik yang sudah punah maupun yang masih hidup hingga sekarang.

lihat denah

Membaca denah Museum Zoologi. Ada ruang mamalia, ruang burung, ruang reptilia, ruang serangga dan lain-lain.

Di setiap ruang kaca, terdapat keterangan yang menjelaskan nama satwa, dan hal-hal terkait dengan satwa tersebut. Andra dan Sasha secara antusias mengamati satwa dan lingkungan dalam ruang kacanya, dan membaca keterangan yang ada. Mudah-mudahan mereka bisa mendapatkan pengetahuan baru dan wawasan lebih luas tentang satwa-satwa itu.

Beberapa satwa baru diketahui Andra dan Sasha saat itu, karena jarang ada di dalam pustaka dan juga secara eksistensi mereka sudah punah atau hampir punah. Contohnya kucing hutan atau meong congkok. Jangankan anak-anak, saya sendiri pun belum pernah melihat langsung binatang ini, hanya sebatas mendengar namanya. Apakah anda pernah melihatnya langsung?

mcongkok

Ruang kaca, meong congkok, dan keterangannya

Meskipun objek-objek di dalam ruang kaca mematung diam tak bergerak, suasana yang dibuat semirip lingkungan aslinya, menjadikan mereka menarik untuk difoto. Dijadikan latar belakang pun, boleh juga...warna-warni dan bentuknya yang kaya, akan ikut menghiasi foto diri kita...hehehe...

Di museum ini memang kita bebas berfoto, bahkan boleh pakai lampu kilat juga. Setahu saya, museum-museum punya aturan boleh berfoto namun dilarang menggunakan lampu kilat. Di sini boleh. Satu kelebihan sekaligus kekurangan.

Ada satwa yang wajahnya lucu, dan Andra maupun Sasha tahunya binatang tersebut adalah salah satu boneka yang bermain di panggung boneka, di Dunia Fantasi Ancol. Mereka baru tahu kalau jenis monyet itu bernama bekantan, dan asalnya dari Kalimantan.

bekantan

Bekantan, binatang yang menjadi ikon sebuah tempat wisata di Jakarta

beruang

Andra memperhatikan beruang madu

Koleksi binatang-binatang yang sudah atau hampir punah membuat kita prihatin, betapa serakahnya dan tidak pedulinya kita manusia yang membuat lingkungan hidup satwa-satwa itu rusak sehingga mereka seperti itu. Contohnya adalah macan dahan, macan akar, bahkan macan batu, yang sekarang kita tidak pernah melihatnya di kebun binatang ataupun di pustaka. Ada juga koleksi berupa model badak bercula satu di daerah Priangan, yang kini sudah tidak mungkin ditemukan lagi. Oh, menyedihkan...

harimau

Harimau di tengah sawah, sementara Andra di depannya sama sekali tidak merasa takut

burung sawah

Masih adakah suasana seperti ini sekarang?

Terdapat beberapa peraga yang memberikan pengetahuan kepada kita, meskipun macamnya banyak, satwa tersebut memiliki beberapa persamaan. Contohnya seperti di bawah ini...

susunan umum kerangka

Sususan umum kerangka vertebrata

Salah satu koleksi yang berharga adalah kerangka paus biru, mamalia terbesar masa kini, yang dipamerkan di ruang terbuka (dulu waktu saya kecil berkunjung ke sini, kerangka ini berada di ruang tertutup). Panjang kerangka ini 27 meter, memberikan gambaran kepada kita betapa hebat dan betapa besar satwa yang hidupnya di lautan ini. Betapa hebat Sang Maha Pencipta melengkapi dunia ini dengan berbagai macam fauna untuk melengkapi kehidupan manusia...Subhanallah.

rangka paus

Kerangka ikan paus biru. Panjangnya 27 meter!

ketrangkpaus

Paus Biru ini mati terdampar di Pantai Pameungpeuk Garut pada tahun 1916

Selain menjadi tempat wisata dan rekreasi di akhir pekan bagi keluarga, Museum Zoologi ini bisa menjadi tempat kita memperkenalkan anak-anak terhadap kehidupan satwa Indonesia, sebagai tempat belajar dan menambah wawasan mereka. Di dalam gedung museum ini, mereka bisa melihat berbagai bentuk satwa, termasuk satwa yang sudah atau hampir punah. Dan itu yang membedakan Museum Zoologi ini dengan kebun binatang.

Tempat ini sangat menarik dan bermanfaat bagi mereka. untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan generasi muda akan kekayaan fauna nusantara, serta menunjang usaha pelestarian satwa-satwa Indonesia yang masih hidup saat ini.

Menurut sejarahnya, Museum Zoologi Bogor ini dibangun di akhir abad 19 oleh pemerintah Hindia Belanda atas gagasan dari seorang ahli botani bernama Dr. JC Koningsberger. Kini museum ini dikelola oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI. Menjadi salah satu ikon kota Bogor, museum ini melengkapi pusat-pusat penelitian ilmiah di Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan kekayaan fauna nusantara.

darimasakemasa

Sejarah perkembangan Museum

Oh, ya. Jam buka museum ini adalah pukul 07.30 – 16.00 untuk hari Senin sampai Kamis, sementara hari Jumat bukanya pukul 7.30 – 16.30. Khusus hari libur, bukanya satu jam lebih panjang, 7.30 – 17.00.

jam buka

Jam buka Museum

Di samping hal-hal menarik yang ditawarkan museum tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi oleh pengelola museum. Kondisi ruangan misalnya, hawa terasa panas dan sedikit pengap siap menyambut kita saat memasuki ruang demi ruang museum, membuat pengunjung merasa kurang nyaman. Apalagi saat kami berkunjung, di luar turun hujan yang cukup deras, membuat di dalam ruangan terasa mandi sauna.

Perlu diatur lagi sistem sirkulasi udara di dalam ruangannya. Mungkin ditambah ventilasi, atau bisa pula ditambahkan fan di beberapa titik. Pasang AC sepertinya tidak mungkin...Smile

Selain itu, tidak adanya petugas (ada tapi tidak ada) memungkinkan pengunjung bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Bayangkan, masak di museum ada anak-anak sekolah bermain bola?

Selain mengganggu pengunjung yang lain, kegiatan ini berpotensi pula merusak koleksi museum yang sangat berharga. Mana petugas? Mana juga guru pembimbingnya?

Duh...mereka (anak-anak, guru pembimbing, sekaligus petugas museum) tidak begitu paham fungsi dan nilai sebuah museum.

bola

Bermain bola kenapa harus di dalam museum?

Saat kami bermaksud meninggalkan museum, untuk melanjutkan petualangan di dalam Kebun Raya Bogor, hujan belum juga reda. Daripada memaksakan tetap naik kendaraan dan putar-putar di dalam kebon...eh Kebun Raya berhujan-hujan, lebih baik kami menunggu. Hingga hujan sedikit mereda.

Hmm...memang bukan Bogor namanya kalau tidak hujan.

tunggu hujan

Menanti hujan reda

Setelah hujan agak reda, cabutlah kami dari gedung musem, dan memulai pusing-pusing di lingkungan Kebun Raya Bogor. Di dalam Kebun Raya ini memang disediakan jalan-jalan beraspal bagi kendaraan untuk mengakses berbagai objek yang ada. Sebagian besar objek-objek menarik bisa dicapai dan didekati dengan kendaraan melalui jalan ini, selebihnya kita harus harus jalan kaki.

Objek paling penting dan berharga untuk dikunjungi tentu saja Istana Bogor, yang megah dan bersejarah. Istana yang pernah menjadi tempat tinggal presiden pertama RI Sukarno, dan juga menjadi venue bagi KTT APEC pada tahun 1994 ini, berlokasi di pojok barat laut (agak tengah) Kebun Raya Bogor. Ada pintu pagar kokoh dan kolam yang memisahkan jalan dengan halaman istana. Pengunjung tidak bisa begitu saja memasukinya, jadi cukup di luarnya saja, penting masih bisa memandang cukup jelas bangunan istana tersebut. Berfoto-foto di depan istana...tidak dilarang. Jadilah banyak pengunjung, termasuk kami, yang menyempatkan diri turun dari kendaraan dan melihat-lihat suasana istana yang tenang tentram seperti tanpa penghuni, serta berfoto-foto di depannya. Suasana sehabis hujan membuat udara lebih sejuk dan segar, namun rerumputan dan tanah menjadi basah dan sedikit berlumpur.

istana

Istana Presiden yang megah, saksi sejarah Indonesia yang sangat berharga

Selain Istana Presiden, kekayaan terbesar dari Kebun Raya ini adalah koleksi ribuan tanamannya. Berbagai tanaman hidup di sini, dan kita bisa mendapatkan tanaman yang jenisnya belum pernah kita lihat sebelumnya, juga ada tanaman dengan bentuk unik. Tanaman yang usianya ratusan tahun, tanaman yang ukurannya sangat besar, hingga hingga tanaman yang merupakan tumbuhan langka, seperti bunga bangkai, ada di sini. Di Kebun Raya Bogor semuanya ada....(bukan hanya Jawa Barat yang semuanya ada...hehehe...)

Hanya saja, untuk melihat tanaman-tanaman itu butuh waktu tidak sedikit. Ditambah hujan yang membatasi kami untuk berjalan-jalan di dalam hutan, kami akhirnya cukup berkunjung ke taman yang cukup terpelihara. Kebun Raya Bogor ini memiliki beberapa taman yang menarik dan indah untuk bersantai serta melepaskan rasa penat di akhir pekan. Untuk berfoto-foto pun, tempat ini memiliki segudang objek menarik. Banyak pengunjung yang berfoto di sini. Untuk syuting dan pembuatan video klip pun, lokasi ini sangat layak.

taman

Satu keluarga yang menikmati keindahan taman di Kebun Raya

Satu lagi objek yang sangat menarik adalah jembatan dengan konstruksi jembatan gantung, berwarna merah menyala, yang sering disebut orang Jembatan Merah atau Jembatan Cinta. Kenapa disebut Jembatan Cinta, saya tidak tahu. Mungkin ada hubungannya dengan cinta, seperti halnya tempat-tempat tertentu di Indonesia yang sering dihubung-hubungkan dengan satu mitos. Terlepas dari namanya,jembatan tersebut memiliki konstruksi unik dan menarik dengan warnanya. Cukup bagus untuk dijadikan objek studi bagi mahasiswa teknik sipil atau pun objek foto bagi penyuka fotografi.

jembatan

Jembatan Merah

Jembatan Merah ini berada di atas Kali Ciliwung yang membelah Kebun Raya Bogor menjadi 2 bagian. Wuihh...kali ini yang sering dituding menjadi penyebab banjir di kota Jakarta.

ciliwung

Seperti inilah Kali Ciliwung di Bogor, cuma terisi separuhnya

Sayang sekali, masih banyak objek menarik dan berharga di Kebun Raya ini yang belum sempat kami kunjungi, namun waktu sudah sore. Supaya puas, butuh waktu lebih banyak. Sepertinya kami harus ke Kebun Raya Bogor ini di lain waktu. Bulan Juni adalah waktu yang bagus, mengingat saat itu bunga bangkai biasanya mekar. Insya Allah...

Selain Museum Zoologi, Kebun Raya Bogor ini juga menjadi tempat wisata sekaligus tempat edutainment yang amat layak dikunjungi kita bersama keluarga.

Anda berminat?

Salam,

CP

Selengkapnya...

Tuesday, December 25, 2012

Ada Yang Tidak Ada di Jawa Barat Semuanya Ada

“Di Jawa Barat Semuanya Ada”, demikianlah tagline iklan pariwisata dari Disparbud Jawa Barat yang muncul di layar televisi kita akhir-akhir ini. Diawali dengan munculnya artis komedian asal Jawa Barat (meskipun sekarang menetap di ibukota), Sule, yang bernyanyi dan menari-nari dengan latar belakang objek wisata Kawah Putih di kawasan Bandung Selatan, iklan ini mengajak pemirsa untuk berkunjung dan berwisata ke Jawa Barat. Lewat rangkaian tampilan gambar beberapa objek wisata di Jawa Barat: Kawah Putih di Bandung Selatan, CandiCangkuang di Garut, Pantai Pangandaran di Ciamis, Kampung Naga di Tasikmalaya, Gedung Merdeka dan Gedung Sate di Bandung, lalu objek kesenian dan budaya tradisional Jawa Barat: berupa Tari Merak yang dibawakan beberapa orang penari, permainan kecapi dan wayang golek, serta sekilas kuliner dan tempat perbelanjaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat sebagai pembuat iklan berdurasi sekitar setengah menit ini bermaksud menunjukkan betapa kayanya potensi pariwisata di provinsi Jawa Barat yang layak untuk dikunjungi.

sule
Sule menari, menutupi pemandangan yang dipromosikan

Apa yang menarik dari iklan pariwisata tersebut?
Selengkapnya...

Monday, December 24, 2012

Kacang Dua Kelinci Masih Jago Kandang

Ada teman yang bertanya, bagaimana dengan produk Kacang Dua Kelinci, yang menjadi sponsor salah satu klub besar Eropa?

Nah, untuk perusahaan Kacang Dua Kelinci ini, kondisinya berbeda dengan korporasi Indosat maupun Garuda Indonesia dalam mempromosikan produknya, meskipun sama-sama memanfaatkan industri sepakbola Eropa yang punya cakupan pasar amat luas dan nilai bisnis yang amat besar.

Kalau Garuda Indonesia memanfaatkan electronic adboard di stadion Anfield untuk mempromosikan nama dan layanannya demi mendapatkan pasar yang lebih luas di kalangan masyarakat negara-negara Eropa dan negara-negara lainnya yang menyiarkan program siaran pertandingan BPL, sementara Indosat mempromosikan nama dan produknya untuk masyarakat Indonesia sendiri dengan prestise lebih karena munculnya di televisi dalam siaran internasional, maka Kacang Dua Kelinci hanya memanfaatkan kebesaran nama Real Madrid FC untuk memperbesar pemasarannya di Indonesia.

Sebelumnya saya pun membayangkan, sebagai official partner brand Kacang Dua Kelinci akan muncul di jersey yang digunakan para pemain Real Madrid, sungguh akan membanggakan kita ada brand nasional terpampang di jersey yang dikenakan pemain kelas dunia seperti Christiano Ronaldo atau Ricardo Kaka misalnya, atau minimal menjadi penghuni tetap adboard di Santiago Bernabeu Stadium.
Selengkapnya...

Sunday, December 23, 2012

Produk Indonesia di Liga Inggris

Kalau semalam anda menonton pertandingan sepak bola Liga Primer Inggris di sebuah GlobalTV, antara Arsenal melawan Wigan Athletic di DW Stadium, pasti seperti saya anda melihat tulisan iklan produk perusahaan Indonesia di papan iklan pinggir lapangan, yaitu Indosat Mentari. Tulisan yang muncul beberapa kali selama pertandingan berlangsung pada LED advertising tersebut kurang lebih “INDOSAT MENTARI – DESIGNED FOR SMARTPHONES" dan “INDOSAT MENTARI – TEKAN *123*....” (saya kurang ingat).

Wah, ternyata ada perusahaan nasional Indonesia yang namanya dan produknya bisa muncul di siaran pertandingan BPL, yang tentunya pertandingan tersebut disaksikan oleh ratusan juta pasang mata pemirsa di negara-negara penggemar sepakbola. Setahu saya sebelum Indosat, perusahaan nasional lain yang memasang iklan seperti ini adalah Garuda Indonesia. Perusahaan penerbangan kebanggaan Indonesia itu bekerja sama dengan pengelola stadion Anfield, markas klub Liverpool, sehingga pada setiap pertandingan BPL yang diselenggarakan di Anfield antara Liverpool melawan klub lainnya, iklan Garuda Indonesia akan tampil di papan iklan dan bisa kita saksikan di layar televisi.

Iklan perusahaan nasional di siaran internasional ini cukup membuat kita bangga. Memang sudah saatnya industri Indonesia go international, supaya tidak melulu jago kandang.
Selengkapnya...