Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

June 5, 2009

Siapkah Kita Berperang?

Pertanyaan ini patut ditujukan kepada kita semua, baik pemerintah dan parlemen, pimpinan dan seluruh jajaran militer, serta seluruh rakyat Indonesia, khususnya pada saat situasi sekarang yang sedang panas-panasnya dengan sering adanya pelanggaran wilayah dan hak kedaulatan Indonesia di Blok Ambalat, perairan provinsi Kalimantan Timur oleh pihak negara tetangga Malaysia.
Di tengah situasi kita yang sedang bersiap-siap menyelenggarakan pemilu pilpres, pertanyaan saya di atas bukan mengajak kita untuk benar-benar siap-siap untuk berperang. Tetapi hanya mengingatkan bahwa adalah satu hal yang mutlak bahwa negara dan bangsa kita harus kuat secara ekonomi, secara sosial budaya, secara diplomasi internasional, dan juga kuat secara militer.

Khususnya yang terakhir ini, sejak era reformasi, kekuatan militer kita terlihat jelas semakin melemah. Persenjataan dan alat-alat perang yang dimiliki militer kita sudah banyak ketinggalan zaman, sudah sangat uzur dan sudah tidak layak pakai, dan ini menjadi salah satu kendala kita memiliki militer yang kuat. Anggaran belanja militer yang sangat kecil, menjadi batasan bagi Departemen Pertahanan kita untuk memperbaharui peralatan dan persenjataan perang kita.

Sejak era reformasi pula, dari tahun ke tahun rasa nasionalisme kita semakin luntur. Kebanggaan berbangsa dan bernegara Indonesia sudah semakin berkurang. Ini terlihat kasat mata di kalangan muda kita, anak-anak sekolah, para pemuda dan mahasiswa (kemarin ada tawuran antar mahasiswa di Salemba), dan termasuk juga para politisi yang sekarang tengah sibuk mencari kursi masing-masing. Tidak ada lagi rasa nasionalisme dan sishankamrata yang dulu sempat dibangga-banggakan itu.

Sebagian di antara kita menuntut pemerintah, khususnya kepada Presiden, agar mengumumkan perang terhadap Malaysia. Slogan “Ganyang Malaysia” (Malaysia yang sering diplesetkan menjadi “Malingsia”) sekarang kembali sering diperdengarkan sejak dipopulerkan dulu oleh Bung Karno sewaktu memberlakukan Perang Dwikora, di era tahun 60-an. Tapi pertanyaan mendasar adalah, apakah kita siap dan mampu untuk berperang sekarang ini?

Memang kita harus mendahulukan penyelesaian secara diplomasi, penyelesaian bipartit secara secara damai karena Malaysia adalah saudara serumpun kita, dan terakhir lewat Mahkamah Internasional. Tapi kita juga tidak boleh melupakan fakta, bahwa mereka berani berbuat seperti itu (di samping tindakan-tindakan lain yang menyinggung harga diri bangsa kita) karena mereka melihat kita lemah baik pemerintah maupun militernya, rakyat kita gampang terpecah dan banyak yang lebih memikirkan kepentingan perut dan jabatan masing-masing.
Jadi kita harus jawab keberanian pihak Malaysia itu dengan bukti, bahwa bangsa kita masih bersatu, masih kuat dan masih punya rasa nasionalisme yang tinggi. Mari kita bangun ekonomi kita, berantas korupsi, perteguh ketahanan sosial budaya kita, bangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan Indonesia, kuatkan diplomasi internasional kita serta ciptakan kekuatan militer yang efektif dan efisien didukung oleh kekuatan rakyat semesta.

Jangan sampai ada lagi sejengkal pun tanah kita yang lepas dari tangan Ibu Pertiwi. Cukup sudah Pulau Sipadan dan Ligitan saja!

Bangkitlah Bangsaku, Jagalah Keutuhan Wilayah Kita!
Si Vis Pacem Para Bellum

(CP, Jun 2009)

No comments :

Post a Comment