Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Saturday, September 25, 2010

Oleh-oleh Mudik (4): Mesjid Agung Demak




Salah satu peninggalan sejarah Islam di Jawa Tengah, yang sangat berharga dan terkenal adalah Mesjid Agung Demak di kota Demak. Didirikan pada abad 15, sampai kini mesjid tersebut masih berdiri kokoh, dan menjadi satu objek wisata religi yang banyak dikunjungi para peziarah serta wisatawan.
Mesjid yang merupakan salah satu mesjid tertua di Pulau Jawa ini, disebut mesjid-nya para Wali karena pembangunannya, konon, melibatkan seluruh wali dari Walisongo yang ada!

Kami sekeluarga, pada libur lebaran kemarin, sebelum berangkat dari Semarang ke Yogya, menyempatkan terlebih dahulu berkunjung ke mesjid ini. Tinggal mengikuti Jalan Raya Semarang - Demak, kita bisa membesut kendaraan kita dengan cukup cepat dan nyaman karena jalan jalur pantura tersebut sudah memenuhi standar pantura dengan 2 jalur yang dipisahkan median di tengahnya dengan aspal yang masih terhitung mulus. Berada di depan alun-alun Kota Demak, untuk mencapai mesjid tersebut kami hanya membutuhkan sekitar 30 menit dari Semarang.

Tiba di lokasi mesjid yang berada di sebelah kiri jalan di sisi barat alun-alun, kita bisa memarkir kendaraan di pinggir jalan di depan mesjid. Biasanya sudah ada tukang parkir yang menyambut kita. Dari tempat kita parkir saja, sudah terasa keramaiannya dengan banyaknya tenda-tenda dan gerobak pedagang yang bertebaran di depan pagar mesjid.
Pada saat masuk halaman mesjid, ada seorang bapak-bapak yang menyambut saya -- anak-anak dan istri saya sudah masuk terlebih dahulu -- dan menunjukkan tempat untuk menaruh sandal, lalu setelah itu dia mengulurkan tangan memberikan sebuah buku berukuran kecil. Buku apa ya? Oooh...ternyata buku tentang sejarah mesjid tersebut.

Jika anda mengalami seperti saya, ditawari buku pada saat baru masuk halaman mesjid, silakan diambil jika anda berniat memberi bapak tersebut sejumlah uang. Namun jika anda tidak mau memberinya, lebih baik ditolak saja dengan halus, karena biasanya mereka agak memaksa.
Kalau kita bermaksud menyumbang infaq/shodaqoh, di beberapa tempat dalam mesjid terdapat kotak infaq. Yang itu, pasti pengelolaannya di bawah tanggung jawab DKM.

Bangunan Mesjid Agung Demak itu terlihat megah, artistik, terkesan antik dan terlihat nilai historisnya. Atapnya berbentuk undakan yang khas arsitektur asli Indonesia. Bentuk limas dengan 3 undakan itu, katanya, melambangkan Iman, Islam dan Ihsan. Sementara di sebelah kanan bangunan mesjid terdapat bangunan lain yang merupakan museum berisikan benda-benda bersejarah yang terkait dengan mesjid ini. Di antara bangunan mesjid dan museum, ada gerbang menuju ke halaman belakang. Di belakang, adalah kompleks makam raja-raja Demak.

Teras mesjid yang cukup luas dinaungi atap sehingga menjadi berupa sebuah bangsal. Teduh terasa, dan lantai keramik yang dingin menjadikan kita cukup nyaman untuk duduk-duduk istirahat di sana, bahkan ada yang berbaring. Apalagi bagi pengunjung yang berasal dari tempat jauh!

Suasana di bangsal depan mesjid, banyak pengunjung duduk-duduk beristirahat bahkan tiduran untuk melepas lelah.

Beduk yang berada di bangsal

Pintu tengah/utama dari mesjid ini, di atasnya terdapat bentuk mangkuk (?) bertuliskan huruf Jawa (ada yang bisa baca?)





Di dalam mesjid, terdapat tiang pilar utama berjumlah empat yang menopang atap berundak tadi berupa kayu jati bulat utuh yang disebut sokoguru. Ini tidak asli, sudah berganti dari aslinya. Yang aslinya, katanya, berupa kayu-kayu kecil diikat menjadi satu dan diberdirikan sebagai tiang. Dan yang menberdirikannya adalah para wali sendiri, ada 4 orang wali. Dengan kokohnya, selama ratusan tahun menyangga atap mesjid, hingga pada tahun 1980-an diganti dengan tiang baru, karena keropos termakan usia.
Kini, tiang kayu lamanya masih ada dan ditaruh di museum di samping mesjid. Sementara, sokoguru yang baru pun terlihat sangat kokoh dan bisa kita saksikan pada saat kita berada di dalam mesjid. Mudah-mudahan, mereka pun sanggup bertugas selama ratusan tahun, seperti halnya sokoguru yang asli.

Keempat soko guru penopang atap mesjid. Satu sokoguru, saya ambil fotonya dari lantai hingga ke atap. Benar-benar kokoh!

Di halaman mesjid, kita bisa mendapatkan sebuah jam yang memanfaatkan matahari sebagai penunjuk waktunya. Termasuk juga arah kiblat bisa ditentukan lewat jam ini. Namun, tidak ada keterangan, kapan jam matahari ini dibangun. Anak-anak merasa senang, karena selama ini mengenal jam matahari hanya lewat buku atau majalah. Kali ini mereka bisa melihatnya langsung.

Jam matahari dan penunjuk arah kiblat. Sasha anak saya berusaha membaca jam berapa saat itu.
Tidak jauh dari jam matahari tersebut, ada sebuah area berpagar dengan papan nama bertuliskan "Situs Kolam Wudlu". Mungkin dulunya orang-orang yang bermaksud sholat di mesjid, mengambil air wudlu-nya di kolam ini ya!

Situs kolam wudhu. Namun sudah tidak dipakai lagi. 

Berhubung kami mengejar waktu untuk bisa bertemu dengan saudara di kota Kudus, kami tidak sempat untuk masuk ke dalam museum-nya. (Sekitar sepuluh tahun yang lalu saya pernah juga berkunjung ke sana, museum tersebut tampak sangat sederhana, meskipun benda-benda yang disimpannya bernilai sejarah sangat tinggi).
Namun, dengan kunjungan yang singkat ini kami sudah bisa memberikan pengalaman nyata kepada anak-anak, Andra dan Sasha, untuk mengenal lebih dekat Mesjid Agung Demak, sebagai salah satu hasil karya umat Islam dulu di Indonesia, yang selama ini hanya mereka baca dan lihat di buku pelajaran mereka.

Sayangnya, mesjid ini, seperti tempat-tempat bersejarah lain di Indonesia, terlalu dibebani keharusan mensejahterakan masyarakat sekitarnya. Keberadaan tenda-tenda para pedagang makanan-minuman dan cindera mata di depan mesjid, telah mengurangi nilai historis dan religius mesjid. Berkesan semrawut, tidak teratur dan keindahan serta kemegahannya tidak terlihat dari tengah alun-alun.
Kalau pedagang-pedagang itu diusir, tentunya mereka akan protes dengan alasan pemerintah kabupaten tidak melindungi para pedagang kecil. Tidak diusir, ya...seperti yang saya bilang. Serba salah ya!



Penuh kendaraan parkir dan tenda-tenda pedagang. Bandingkan dengan foto di sebelah kanan! (foto saya copy dari website Pemkab Demak)


Kalau saja tempat parkir kendaraan para pengunjung dan para pedagang itu bisa dikelola dengan lebih baik ...(CP Sept 2010)

http://ceppi-prihadi.blogspot.com




0 comments:

Post a Comment