Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

September 1, 2010

Perangko dan Kepekaan Seorang Pemimpin

Apakah anda punya hobi mengoleksi perangko?
Atau masih seringkah anda mengirim surat lewat pos dan menempeli amplop surat itu dengan perangko sebelum suratnya dikirim?

 
Perangko, bukti kita bayar (sumber gambar: klik)

Saya kurang tahu persis, apakah hobi mengoleksi perangko masih banyak dilakukan orang zaman sekarang. Saya yakin ada, tapi tentunya sudah amat berkurang dibandingkan pada masa jaya-jayanya surat menyurat konvensional dengan menggunakan layanan pos. Aktivitas mengumpulkan perangko atau yang disebut filateli ini memang menyenangkan (jadi bukan cuma menulis yang menyenangkan!..hehehe...), apalagi jika kita mendapatkan perangko yang unik dan sangat jarang, entah dari Indonesia sendiri maupun dari negara lain.

Sementara kegiatan mengirim surat melalui pos dari tahun ke tahun semakin berkurang seiring dengan makin majunya industri teknologi telekomunikasi dan informasi, dengan memasyarakatnya pemanfaatan alat komunikasi telepon selular dan penggunaan internet termasuk surat elektronik (email). Dan saat industri teknologi itu belum begitu maju, surat konvensional-lah yang menjadi andalan orang untuk berkomunikasi. Sementara perangko adalah tanda bukti bahwa kita sudah membayar biaya pengiriman atas surat yang kita kirimkan.

Perangko biasanya didesain dengan gambar-gambar tertentu yang khas atau memanfaatkan event tertentu suatu negara, termasuk juga gambar tokoh pahlawan atau pun pemimpin. Nah, pernahkan terbayang, wajah anda yang tercetak dalam perangko dan perangko itu digunakan oleh banyak orang untuk mengirim surat?
Saya sempat menanyakan lewat status fb saya, apakah ada yang mau. Ternyata teman-teman yang menjawab, menyatakan tidak mau dengan alasan bahwa perangko itu nantinya dipukul-pukul oleh petugas pos di kantor pos. Memang, dalam kegiatan pengelolaan surat oleh instansi negara dalam bidang pos ini (PT Pos Indonesia), perangko yang menempel pada surat harus di-chop sebagai bukti pengesahan dan juga menyatakan bahwa perangko itu sudah dipakai serta tidak bisa dipakai ulang.
Di-chop-nya itu yang butuh dipukul-pukul! Apalagi alat chopnya berbentuk palu lengkap dengan gagangnya.

Anda mau wajah anda dipukul-pukul, meskipun sebatas gambar pada perangko?
Hiiiy....saya pribadi tidak mau! Termasuk kalau saya jadi presiden lho! Saya tidak mau di-perangko-kan
Belum lagi kalau perangko bekasnya dibuang tempat sampah!
Belum lagi kalau....ada kawan saya di fb yang berseloroh, bagaimana kalau seseorang yang menempelkan perangko itu, menggunakan cairan "ludah"nya (maaf)? Hiiiiy....juga nggak maulah!

Anda mau wajah anda terpampang pada perangko dalam jumlah ribuah bahkan ratusan ribu lembar?
Hihihi...kemungkinan anda pun seperti saya, kecuali anda benar-benar pede dan butuh promosi atas diri anda yang seorang artis yang belum terlalu terkenal.

Ternyata, ada lho seorang pemimpin daerah yang mau wajahnya dicetak di atas perangko dan perangkonya digunakan untuk mengirim surat!
Dan hebatnya, hal tersebut adalah atas keinginan sendiri pemimpin yang seorang gubernur tersebut. Surat yang dikirimnya dialamatkan ke kepada pejabat pemerintah daerah hingga tingkat RW/RT itu pun tidak tanggung-tanggung, jumlahnya hingga 350 ribu lembar surat!...Surat yang merupakan kartu ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Luar biasa bukan?
Ironisnya, proyek mengirim kartu lebaran ini, selain menggunakan perangko dengan gambar wajah sang pemimpin, biayanya yang memakan hingga 1,7 M itu 100% ditanggung oleh APBD! Satu hal yang menurut saya....nggak penting banget!

Uang sebesar itu bisa digunakan hal-hal lain yang jauh lebih bermanfaat, apalagi di tengah kondisi perekonomian yang seperti sekarang ini, di mana harga barang-barang kebutuhan pokok sedang naik, tarif dasar listrik yang naik, tarif-tarif lain naik juga, serta adanya rencana kenaikan harga BBM untuk kendaraan tertentu. Pokoknya masyarakat serba sulit, terlebih masyarakat golongan bawah alias golongan elit ekonomi sulit alias masyarakat miskin.
Dengan uang sebesar itu, ribuan rakyat miskin yang kelaparan bisa diberi makan. Puluhan sekolah dasar bisa dibangun atau diperbaiki dengan dana sebanyak itu.

Meskipun proyek itu sudah direstui oleh para wakil rakyat yang duduk di DPRD provinsi tersebut, yang berarti secara hukum bisa dibenarkan, tetap saja hal tersebut melukai perasaan sebagian besar masyarakat khususnya warga provinsi yang dipimpin gubernur tersebut. Sedemikian tipiskah rasa kepedulian pemimpin tersebut pada rakyatnya? Tidak punya kepekaankah terhadap kesulitan masyarakat kelas bawah yang sehari-harinya harus berjuang untuk sekedar bisa hidup?
Satu peragaan pemborosan uang negara di tengah-tengah kesulitan masyarakat miskin untuk menjaga kelangsungan hidup mereka.

Perangko Sang Gubernur (sumber gambar: klik)

Banyak kalangan yang mengkritik kebijakan gubernur tersebut, termasuk pihak yang merasa tokohnya (alias wakil sang gubernur) tidak diikutsertakan gambarnya dalam perangko tersebut. Ada yang mengatakan bahwa sang gubernur sudah mengidap penyakit narsisisme (benar nggak ya istilah ini?) sehingga terlalu pede untuk mengabadikan wajahnya dalam sebuah perangko dan perangkonya disebar ke seluruh pelosok provinsi.
Ada juga yang bilang, menggunakan dana Rp1,7 miliar hanya untuk berkirim kartu Lebaran sudah tidak patut, meskipun itu memakai uang pribadi. Apalagi jika uang negara yang dipergunakan!
Ingat, uang negara adalah uang kita, uang anda semua dan uang saya juga.

Saking kecewanya karena proyek ini terus bergulir, sekelompok mahasiswa di ibu kota provinsi tersebut membakar foto berwajah sang gubernur yang dilambangkan sebagai perangko narsistis tersebut.

Duuh...kapan para pemimpin kita bisa lebih peka terhadap penderitaan rakyatnya? (CP, Sep 2010)


Salam,
http://ceppi-prihadi.blogspot.com



1 comment :