Di hari terakhir mudik sebelum pulang kembali ke Cikarang, kami sekeluarga menyempatkan diri mengunjungi untuk kedua kalinya mesjid yang merupakan kebanggaan warga kota Semarang dan juga masyarakat Jawa Tengah pada umumnya, yaitu Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang berada di daerah Gayamsari. Masih kurang puas nih pada kunjungan pertama, kami belum melihat keseluruhan seperti apa mesjid ini. Juga karena pada kunjungan pertama sekitar 3 tahun yang lalu, saya tidak membawa kamera untuk mengabadikan pemandangan yang ada di sekitar mesjid ini. Sekarang? Senjata sudah dibawa nih!
Kalau dulu kami berkunjung pada malam hari, kali ini siang hari pada saat matahari bersinar terik. Masjid ini masih terlihat indah dan megah, meskipun tidak ada hiasan nyala lampu-lampu yang mempercantik dan memperanggun penampilan mesjid seperti di malam hari, namun di siang hari kami bisa melihat secara utuh dan jelas semua bagian bangunan mesjid. Dengan desain bangunan beratmosfir gabungan seni arsitektur Jawa, Timur Tengah dan Romawi/Yunani, mesjid ini terlihat sangat megah sehingga tidak berlebihan jika mesjid ini kita juluki sebagai salah satu mesjid termegah di Indonesia.
Kompleks mesjid yang terdiri dari bangunan utama mesjid yang luas ditambah pelataran sangat luas tempat dilaksanakan sholat, terdapat pula beberapa bangunan pendukung lain, yang di antaranya auditorium (katanya sih disewakan) di sisi sayap kanan masjid, dan di sisi sayap kiri perpustakaan dan ruang perkantoran (yang juga disewakan untuk umum). Juga terdapat menara besar Al Husna Tower yang tingginya 99 meter yang di dalamnya terdapat museum tentang perkembangan Islam dan budaya Islam di Indonesia (kalau ini nanti saya ceritakan terpisah) dan gedung penginapan buat pengunjung yang bermaksud menginap di sekitar mesjid ini. Bangunan utamanya sendiri beratapkan kubah besar, dilengkapi di bagian luarnya empat minaret (menara) yang runcing menjulang ke langit. Arsitektur yang sangat bercorak Islam universal!
Salah satu ciri khas MAJT ini adalah adanya 6 buah payung raksasa yang dapat digerakkan secara hidrolik untuk menaungi pelataran halaman mesjid pada saat pelaksanaan (biasanya) sholat Jumat. Setahu saya, baru mesjid ini yang memiliki payung raksasa seperti itu di Indonesia. Dan kata Pak Choirul teman saya, kelengkapan payung ini menyerupai apa yang ada di Mesjid Nabawi Madinah. Wah, berarti MAJT menjadi nomor 2 dong di dunia mesjid yang memiliki payung raksasa!
Satu hal lagi, teman saya yang lain Pak Eko SHP juga memberitahu, desain maupun pembuatan payung raksasa ini adalah oleh instansi tempat beliau bekerja, yaitu BUMN Konstruksi Waskita. Wuiih...mantap! Berarti payung raksasa ini adalah karya putera-puteri Indonesia, dan patut menjadi kebanggaan kita semua.
Mudah-mudahan segera dipatenkan agar desainnya tidak dicuri oleh pihak lain (misalnya oleh negara tetangga M*******, ...hmmm...).
Selain menjadi tempat ibadah yang merupakan terbesar di Jawa Tengah, mesjid ini pula dipersiapkan sebagai objek wisata religi, melengkapi objek-objek wisata religi lain di Jawa Tengah.
(Mudah-mudahan tidak sekedar indah dan megah ya, tapi benar-benar berfungsi sebagai pusat syiar agama Islam di Jawa Tengah! Juga harapan saya, keindahan dan kemegahan mesjid ini selalu terpelihara dengan baik. Masalahnya, orang kita seringnya bisa membangun tapi kurang bisa memelihara. Kita yang berkunjung pun harus turut memelihara keindahan dan kebersihan mesjid, baik di dalam maupun hingga ke luar mesjid. Buang sampah jangan sembarangan ya!).
Oh, ya, informasi tambahan. Mesjid ini dibangun mulai tahun 2001 dan selesai serta diresmikan oleh Presiden RI, Bapak SBY, pada tahun 2006.
Anda yang berkunjung ke kota Semarang, atau pun hanya sekedar melewati kota Semarang dalam perjalanan, sempatkanlah datang ke MAJT ini. Sungguh, anda akan mengagumi keindahan dan kemegahan mesjid ini. Foto-foto di sini, tidak cukup untuk bisa menggambarkannya.
Salam,
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
http://harihari-ceppi.blogspot.com
Foto-foto yang lain:






September 19, 2010
Oleh-oleh Mudik (3): Mesjid Termegah di Indonesia
Oleh-oleh Mudik (2): Makan Bakso di Lantai 18
Sukakah anda makan bakso?
Dari sejumlah orang yang saya berikan pertanyaan seperti itu, 90% menjawab: Suka!
Iyalah, memang bakso (plus mie) yang bahan utamanya adalah daging ditambah tepung ini (tapi banyak juga yang kebalik ya, lebih banyak tepungnya daripada dagingnya!), sudah menjadi makanan yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia. Di mana-mana, di kota-kota, di kampung-kampung, di pelosok-pelosok ada orang yang menjual bakso dan banyak orang yang makan bakso. Begitulah saking memasyarakatnya makanan jenis ini.
Bakso! Benar-benar dikau disukai banyak orang, wanita dan laki-laki, kapan saja di mana saja.
Pernahkah anda makan bakso di ketinggian, di lantai 18? Dan sambil makan bakso, anda bisa melihat pemandangan indah, jauh di bawah anda?
Sebagian besar belum pernah kan?! ...hehehe...
(Tanya anda) Memangnya ada? ... Di mana dong?
(Pikir anda) Jangan-jangan di hotel berbintang atau restoran gedung tinggi di Jakarta. Dengan harga berbintang pula?
Waduh, berat di kantong dong!
He.he.he...ternyata makan bakso di lantai 18 tidaklah di hotel berbintang atau di restoran yang berada di gedung tinggi di Jakarta. Melainkan di sebuah menara, di kota Semarang!
Dan kabar gembiranya, harganya pun masih terjangkau-lah! Harga kita-kita!
(Anda penasaran) Aah...yang bohong? Bener nggak nih?
Bener banget! Ini pengalaman saya dan keluarga sewaktu mudik Lebaran kemarin di Semarang. Kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT), yang beberapa tahun yang lalu pernah kami kunjungi. Dulu, kami belum sempat menaiki menara yang berada di mesjid itu karena saat itu rupanya orang yang mengantri untuk bisa naik sedang banyak sekali. Nah, saat kunjungan terakhir kemarin itu, kebetulan orang yang sedang mengantri sedikit, sehingga dengan sangat antusias kami sekeluarga masuk ke dalam antrian untuk bisa menaiki menara mesjid yang tingginya katanya 99 meter ini.
Di atas menara itu, di lantai 18, terdapat rumah makan yang menyajikan menu utama bakso. Bayangkan, satu-satunya rumah makan yang berada di menara tersebut! Jadi kita yang makan di rumah makan tersebut, pastilah merasa istimewa, karena jarang rumah makan, apalagi di sana kita cuma makan mie bakso, yang lokasinya berada di ketinggian seperti itu. Memberikan sensasi tersendiri!
Menara Mesjid Agung Jawa Tengah, dengan ketinggian 99 meter
Di sinilah lokasi rumah makan itu!
Terus, selain yang istimewa lokasinya, apalagi yang jadi kelebihan?
Rasa bakso-nya...jujur, saya bilang enak. Istri dan anak-anak saya juga menyatakan hal yang sama.
Harganya...sangat terjangkau! Dijamin deh! Sangat murah menurut saya, jika melihat lokasi rumah makan di sana yang tentunya bayar sewanya tidak murah.
Andra dan Sasha mejeng sebelum makan, di tengahnya daftar menu Kampoeng Menara beserta harganya. Lihat saja, nggak mahal kan?
Terus apalagi?
Ada!...Rumah makan itu bisa berputar! Jadi pada saat anda makan, pemandangan di bawah sana akan selalu berubah karena meja dan kursi tempat anda makan berada di atas sebuah piringan yang berputar. Hebat bukan?
Apalagi kalau pemandangan di malam hari, yang saya yakin akan lebih indah. Gemerlap kelap-kelip cahaya lampu di seantero kota Semarang yang eksotis, yang akan memberikan anda pemandangan dan pengalaman benar-benar luar biasa.
Sasha mejeng sebelum makan, dengan latar belakang pemandangan kota Semarang. Mantab bukan?
Jadi?
Kalau anda berkesempatan berkunjung ke Mesjid Agung Jawa Tengah, pastikan anda bisa menaiki menara mesjid, yang disebut Menara Asma'ul Husna (Eh, saya lupa memberi tahu...naik menara harus membeli tiket seharga 5000 rupiah per orang), dan jika anda lapar pada saat berada di atas menara, silakan mampir di rumah makan tersebut. Nama rumah makannya...Kampoeng Menara!
Baksonya enak, relatif murah...dan sensasinya itu lho! (CP, Sep 2010)
Bakso kotak, bakso andalan rumah makan ini
Si Andra sendiri menyatakan bahwa bakso yang dimakannya memang uenak
Salam kuliner,
http://ceppi-prihadi.blogspot.com
http://harihari-ceppi.blogspot.com




