Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Powered by Blogger

January 9, 2011

Belanja Tanpa Kantong Plastik

Saya pernah membicarakan, dalam posting sebelumnya, bagaimana sampah plastik membahayakan lingkungan dan kehidupan yang berada di dalamnya, termasuk kehidupan kita manusia. Okupansi alam ini, baik tanah di permukaan maupun di dalam, air sungai dan laut, oleh sampah, telah menimbulkan efek yang buruk bahkan mengerikan!

Bagaimana mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh keberadaan sampah plastik itu, sementara kita sehari-hari sudah tergantung pada yang namanya kemasan plastik itu?

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Namun saya ingin menyampaikan cerita yang berhubungan dengan kemasan plastik ini.

Suatu saat sepulang saya mengantar istri berbelanja di sebuah hipermarket, saya memperhatikan kantong plastik yang digunakan untuk membungkus barang-barang belanjaan. Ada ilustrasi dan keterangan menarik pada kantong plastik tersebut.

Tertulis di bagian bawah kantong plastik itu: “Carrefour Peduli Lingkungan”.


Kantong plastik untuk membungkus barang belanjaan

Ilustasinya adalah PROSES DEGRADASI, dengan penggambaran produk kantong plastik ini yang mulai dari bulan ke-1, bulan ke-2, bulan ke-3, hingga bulan ke-24, mengalami degradasi atau kerusakan/kehancuran, sedikit demi sedikit. Butuh 24 bulan atau 2 tahun kantong plastik yang disebut “Ramah Lingkungan” ini untuk bersatu dengan alam!

Bayangkan, kantong plastik biasa membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai! Sangat lama, dan membutuhkan beberapa generasi manusia untuk “menikmati” efek sampahnya.

Jadi, jika dibandingkan dengan kantong plastik biasa, kantong plastik yang diklaim berpredikat “ramah lingkungan” ini sudah jauh lebih baik. Kita bisa melihat hancurnya plastik ini hanya dalam waktu hanya 2 tahun. Eh,…apakah benar kantong plastik tersebut hancur dalam waktu 2 tahun? Untuk membuktikannya, kita butuh waktu selama 2 tahun untuk mengikuti proses kehancurannya.


Terdapat logo “epi” dengan tambahan tulisan “total degradable”

Lalu, apa yang menyebabkan dia berbeda dengan kantong plastik biasa? Materialnya?

Materialnya, tentu saja. Materialnya memungkinkan si plastik hancur  lebih cepat Kenapa bisa begitu? Bukannya plastik itu tahan terhadap pengaruh lingkungan?

Ini informasi yang saya dapatkan hasil googling, dan saya rangkum serta paparkan dengan bahasa saya:

Kantong plastik yang bisa hancur/terurai dalam waktu relatif singkat(saya sebut relatif singkat, jika dibandingkan dengan 200 hingga 1000 tahun waktu hancurnya material plastik biasa) terdiri dari 2 macam, yaitu kantong plastik bio-degradable dan kantong plastik oxo-degradable. Kantong plastik bio-degradable berbahan dari bijih plastik dicampur 20% – 30% tepung tapioka atau tepung jagung. Mengandung bahan alami bukan? Meskipun masih juga menggunakan bijih plastik. Sayangnya lagi, karena menggunakan bahan alami tersebut biaya pembuatannya tinggi sehingga harga jualnya lebih tinggi dari harga jual kantong plastik biasa, bahkan bisa mencapai 5 kalinya!


Kantong plastik bio-degradable dengan merek Ecoplast

Berapa lama hancurnya kantong plastik bio-degradable ini? Katanya, dia hanya butuh sekitar 10 minggu (bukan 2 tahun), jika dianggap kantong plastik ini berada di TPA (tempat pembuangan akhir). Cukup singkat bukan?

Sementara itu, kantong plastik oxo-degradable terbuat bijih plastik biasa, ditambah zat lain/aditif yang menyebabkannya menjadi mudah terurai, dengan mengalami oksidasi oleh udara. Salah satu zat aditif itu bernama EPI, yang logonya terdapat pada kantong plastik yang saya lihat di atas itu. Oooo….


Skema proses degradasi kantong plastik EPI dan kembalinya ke alam (sumber gambar: http://pabrik-kantong-plastik.blogspot.com)

Kalau mau tahu lebih mendalam mengenai aditif EPI ini, kita bisa mengunjungi situs www.epi-global.com

Nah, kantong plastik exo-degradable ini, barulah hancurnya dalam 2 tahun! Seperti yang dicantumkan dalam kemasan pembungkus barang belanjaan tadi. Lebih lama dibandingkan dengan yang “bio”!

Dan, bukan cuma hipermarket C4 saja yang sudah menggunakan kantong plastik dengan logo EPI ini, namun beberapa usaha/merchant lain juga sudah memanfaatkannya. Gramedia, Ace Hardware, Holland Bakery, Gunung Agung, misalnya. Coba anda perhatikan kantong plastiknya, jika anda berbelanja di sana! Jika ada logo EPI, berarti kantong plastiknya sudah termasuk kantong plastik yang akan hancur dalam waktu sekitar 2 tahun.

Oh, ya. Setelah mencari-cari di rumah, saya pun menemukan bahwa kantong plastik dari Alfamart pun mencantumkan tulisan “TAS INI DAPAT HANCUR DENGAN SENDIRINYA” dengan logo “OXIUM” di sampingnya. OXIUM? Apa lagi nih?

(Teman saya Pak Firman berseloroh, kalimat “TAS INI DAPAT HANCUR DENGAN SENDIRINYA” mengingatkannya pada film Mission: Impossible di mana tugas rahasia yang harus dijalankan oleh agen Ethan Hunt direkam dalam media yang akan “hancur dengan sendirinya” dalam waktu beberapa detik setelah dilihat/diputar. Hahaha…ternyata AlfaMart pun secanggih MI!)

alfa
“TAS INI DAPAT HANCUR DENGAN SENDIRINYA”


Oxium ternyata serupa dengan EPI, merupakan zat aditif yang mempercepat kehancuran material plastik. Hanya, kalau EPI berasal dari produsen Kanada, Oxium ini adalah produk karya orang Indonesia! Nah, kantong plastik Alfamart ini menggunakan Oxium sebagai aditifnya.

Informasi mengenai Oxium, bisa anda peroleh di www.oxium.net.

Mulai sekarang, silakan anda sekarang mengamati berbagai kantong plastik belanjaan anda!

Mudah-mudahan makin banyak pengusaha lain yang mau mengikuti penggunanan kantong plastik yang bisa hancur sendiri ini. Tentunya, regulasi pemerintah dibutuhkan untuk “memaksa” para pengusaha agar mendukung salah satu program penyelamatan lingkungan ini.



Butuh Perubahan Sikap Masyarakat

Apakah dengan penggunaan kantong plastik degradable, baik bio maupun oxo, persoalan sampah (kantong) plastik sudah teratasi?

Tentu tidak. Karena baru sebagian kecil saja kantong plastik yang beredar di masyarakat yang berkarakteristik degradable, permasalahan sampah kantong plastik masih tersisa banyak. Proses reuse atau recycle material kantong plastik pun terbatas, apalagi kantong plastik yang sudah menjadi sampah dan berada di tempat sampah. Pernah dulu, ada edaran dari BPOM yang melarang penggunaan kantong kresek hitam yang umumnya berasal dari proses daur ulang karena dikhawatirkan mengandung bahan yang berbahaya, dari penggunaan kantong plastik sebelumnya yang untuk segala macam, termasuk untuk membungkus bahan-bahan kimia.

Kantong plastik yang degradable pun tidak dijamin bisa terurai 100% karena masih menggunakan bahan utama bijih plastik biasa. Juga tetap membutuhkan bahan dasar si bahan bakar fosil alias minyak bumi, yang perlu ditambang dengan berbagai konsekuensi pada alam dan lingkungan manusia sekitarnya.

Jadi bagaimana dong?

Sebenarnya yang menentukan adalah sikap dan kebiasaan kita sebagai penanggung jawab kehidupan di bumi ini. Jika kita tidak menginginkan lingkungan alam kita hancur oleh keberadaan sampah plastik, kurangilah sebanyak mungkin barang-barang dari plastik, khususnya dalam hal ini kantong plastik. Pakailah kemasan dari material yang lebih bersahabat dengan alam. Lebih mahal harganya, mungkin, namun kita tidak bisa mewariskan bumi yang sudah rusak kepada anak cucu kita. Ada benarnya pepatah: Bumi ini bukan warisan dari nenek moyang kita, melainkan titipan dari keturunan kita di masa mendatang. Jadi harus dijaga dan jangan sekali-sekali dirusak.

Opini masyarakat konsumen bisa berpengaruh besar terhadap sikap para pengusaha yang membuat dan menjual produk, terutama yang bermodal besar. Kita harus selalu kampanyekan bahayanya sampah plastik, dan menyerukan kepada semua komponen masyarakat agar mengurangi penggunaan kantong plastik yang tidak bisa terurai oleh alam. Salah satu contoh konkritnya, jangan mengunjungi supermarket yang masih menggunakan kantong plastik tidak terurai.

Langkah berani yang bisa dilakukan pengusaha hipermarket/ supermarket, adalah dengan tidak menyediakan kantong plastik bagi pembelinya, sehingga pembeli harus membawanya sendiri dari rumah. Namun apakah bisa berakibat berkurangnya pengunjung hipermarket/supermarket tersebebut, karena langkah yang tidak populer tersebut?

Di Singapura, ada lho beberapa pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan kantong plastik bagi pembelinya! Dan pelanggan tetap saja datang berkunjung, dengan membawa kantong plastik sendiri tentunya. Harus ditiru tuh!

Ada baiknya kita kembali melakukan kebiasaan Ibu-ibu kita zaman dulu, yaitu berangkat ke pasar dengan membawa keranjang. Barang belanjaan kita, cukuplah di taruh di keranjang tersebut tidak perlu dibungkus kantong plastik. Kalau kita merasa malu atau gengsi untuk melakukannya, alternatifnya adalah kita membawa kantong plastik dari rumah, yang bisa dilipat sehingga tidak kelihatan orang. Atau, gunakan kantong plastik program khusus dari tempat anda berbelanja, yang bisa digunakan berkali-kali, dan jika sudah rusak kita bisa menukarkannya secara gratis dengan kantong plastik yang baru.


Kantong plastik untuk dipakai berkali-kali

Mana yang anda pilih: mau sedikit ribet sekarang atau mau lingkungan hidup untuk anak cucu buyut anda nanti rusak gara-gara sampah plastik? (CP, Des 2010)

Catatan: Bukan iklan untuk hipermarket/minimarket tertentu. Penyebutan nama maupun ilustrasi foto hanya untuk contoh.

Salam,

http://ceppi-prihadi.co.cc

http://bloggercikarang.com

4 comments :

  1. Salam.

    Salut dengan pak Ceppi yang selalu konsens kalau sudah masalah sampah.
    Go Green ya pak Ceppi.

    Saat ini kita memang belum bisa anti plastik, tapi kita bisa mulai dengan diet plastik.

    Salam sehati

    ReplyDelete
  2. Salam kenal,

    Saya dukung gerakan belanja tanpa kantong plastik :)
    Semoga semakin banyak masyarakat di Indonesia yang sadar dan peduli akan bahayanya kantong plastik :)

    Sukses selalu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal kembali...

      Gerakan ini tentunya harus di-drive oleh pemerintah, karena mengandalkan kesadaran masyarakat akan sangat sulit.
      Hanya segelintir kelompok masyarakat yang peduli akan kelestarian bumi kita ini...

      Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri!

      Delete
  3. Berarti kebijakan 200 rupiah untuk kantong plastik di minimarket itu sebenarnya utk kepentingan pihak minimarket sendiri dong utk mengganti biaya produksinya, sedangkan bg masyarakat tradisional tetep aja mereka akan menggunakan plastik umumnya

    ReplyDelete