
Acara Opera Van Java di TransTV yang sedang naik daun atau juga acara contekannya di stasiun TV lain, sering menampilkan adegan lucu (Apa tidak lucu ya?) pemukulan atau kejahilan para pemainnya terhadap pemain lain yang menggunakan barang-barang tiruan dari aslinya yang terbuat dari styrofoam. Pada saat adegan itu terjadi, selalu di layar ditampilkan teks “Properti yang digunakan terbuat dari bahan lunak dan tidak membahayakan”. Di setiap episode, selalu ada adegan seperti itu, dan dalam satu episode tayangan, beberapa kali teks tersebut muncul, yang artinya adegan serupa, meskipun propertinya berbeda, terjadi beberapa kali.
Seorang rekan blogger di Kompasiana menyoroti adegan itu dari aspek psikologis, bahwa adegan pemukulan atau apapun bentuknya yang menggunakan properti tersebut meskipun barang tiruan berpotensi mengajarkan sikap kekerasan terhadap anak-anak yang menjadi salah satu komponen penonton terbesarnya. Kelucuan slapstik yang ditonjolkan di acara itu yang sebenarnya tidak mendidik masyarakat (kasarnya sih tidak lucu), akan mendorong anak-anak yang belum mengerti (dan belum bisa membaca juga) untuk meniru adegan kekerasan tersebut.
Dari aspek lain, memang benar properti (barang-barang) tiruan tersebut tidak melukai pemain yang dipukul atau yang dijahili. Namun kalau kita pikir lebih mendalam, akan timbul pertanyaan. Apakah benar properti itu tidak membahayakan? Tidak membahayakan buat siapa?
Bahannya memang lunak, mudah patah ataupun hancur kalau dipukulkan atau dipukul atau pun ditendang, sehingga tidak mencederai para pemain yang menjadi korban kelucuan atau kejahilan itu. Namun, bagaimana sisa barang-barang/ properti tadi yang sudah rusak selesai syuting acara? Dibuang tentunya.
Dibuang ke mana?
Itu dia!
Hampir semua kita tahu bahwa styrofoam adalah salah satu jenis material plastik yang tidak bisa didaur ulang, tidak bisa diolah dan dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang berguna. Dibiarkan di alam pun sampai ratusan tahun tidak musnah-musnah, karena tidak ada mikroorganisma yang mau mengurainya (nggak enak, kata si mikroba). Satu-satunya cara memusnahkan styrofoam ini adalah dengan cara dibakar. Namun dengan dibakar pun, pasti ada sisa abu berupa karbon atau senyawa lain yang kemungkinan besar juga tidak bisa diurai. Belum lagi asap hasil pembakaran itu menjadi gas yang baunya tidak sedap untuk dihirup selain beresiko membahayakan kesehatan.
Memang bandel si styrofoam ini!
Lingkungan ini makin rusak dengan banyaknya styrofoam, baik dibiarkan menumpuk maupun dibakar.
Mengapa acara seperti OVJ ini di setiap episode-nya selalu memaksakan ada barang yang terbuat styrofoam? Apakah supaya komedinya menjadi lebih lucu karena ada adegan pemukulan atau kejahilan di antara pemain dengan digunakannya barang-barang yang justru akhirnya rusak? Atau ada faktor lain, misalnya karena ada sponsor perusahaan styrofoam yang ingin produknya laku dibeli dan digunakan?
Memang bukan hanya dalam acara tersebut styrofoam digunakan, di kehidupan sehari-hari juga kita terlalu akrab dengan styrofoam, yang sebenarnya berbahaya untuk lingkungan. Namun, untuk acara yang menghibur seperti ini, mengapa juga harus menggunakan bahan2 yang berbahaya? Ingat lho, di banyak negara styrofoam ini sudah dilarang penggunaannya!
Kalau kita mau lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, kita harus menuntut kepada produser acara OVJ agar tulisan yang muncul pada setiap berlangsung adegan kelucuan yang menggunakan properti tersebut menjadi “Properti ini terbuat dari bahan yang berbahaya untuk lingkungan, meskipun tidak mencederai tubuh”
Setuju kan?
Kalau tidak setuju, silakan hirup banyak-banyak gas asap pembakaran styrofoam ini...he.he.he...
Salam,
CP, Feb 2010
http://umum.kompasiana.com/2010/02/25/ovj-properti-yang-berbahaya/
February 25, 2010
OVJ: Properti Yang Berbahaya
February 6, 2010
Pemakzulan....makzul lo?
Kini, ada istilah baru yang sedang populer di media massa. Istilah ini adalah adalah "pemakzulan", yang berhubungan dengan kasus skandal Bank Century. Katanya, ada wacana sebagian anggota parlemen untuk melakukan pemakzulan terhadap Presiden dan Wapresnya, SBY-Budiono.
Pemakzulan? He.he.he..istilah baru dan cukup aneh didengar. Makzul, diberi imbuhan pe-an, menjadi pemakzulan. Apakah sejenis dengan Maknyus, atau mungkin Makerot? He.he.he..
Sudah ada beberapa teman blogger yang membahas istilah ini, lengkap dengan guyonannya, menghibur diri kita karena carut marutnya kasus ini yang bikin otak puyeng karena ketidakmengertian kita akan bagaimana sebenarnya kasus ini.
Ada yang memplesetkan "makzul" ini dengan "Mak Zul" emaknya si Zul, atau juga istrinya Pak Zul. Akhirnya kalau SBY dan Budiono di-"makzul"-kan, artinya mereka menjadi dipanggil Mak Zul, yang tidak mungkin karena mereka adalah laki-laki, he.he.he...
Memangnya, artinya apa ya? Apakah istilah ini berasal dari bahasa Indonesia?
Coba kita mencari referensi, melihat kamus yang ada.
Ternyata....makzul itu adalah padanan kata bahasa Inggris impeachment, yang merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Impeachment yang berarti pernyataan ketidakpercayaan seseorang/badan terhadap seorang pejabat dan permintaan terhadap orang tersebut untuk turun dari jabatannya. Jadi seperti dinyatakan di atas, sebagian anggota parlemen sedang berpikir untuk bisa menurunkan SBY-Budiono dari jabatannya sekarang, karena dianggap bersalah dalam kasus Bank Century itu dan tidak becus mengejar target pemerintahan di masa 100 hari. Dimakzulkan!
Yaa…ternyata impeachment!
Istilah yang lebih dulu populer dibandingkan pemakzulan, apalagi kalau kita mengikuti perkembangan politik dan ekonomi dunia pada saat Bill Clinton sang presiden negara adikuasa sedang menghadapinya gara-gara sebuah skandal seks!
Pemakzulan = impeachment
Kalau kita lihat kata impeach, ada kata peach-nya, yang berarti buah persik atau warna peach (coklat krem).
Apa bisa ya pemakzulan diplesetkan menjadi ketidakpersikan? He.he.. kan pemakzulan = impeachment, sementara impeach = tidak persik….jadi ngawur!
Terus, kalau dengar kata persik, pasti pikiran kita terbayang Dewi Persik dengan goyang tukang kayunya, he.he..alias goyang gergaji!
Tapi kalau kita dengar istilah makzul atau impeach, langsung kita membayangkan SBY-Budiono yang baru duduk di tampuk kekuasaan seratus hari lebih ini, yang harus mempertahankan kedudukannya erat-erat karena kursinya digoyang cukup keras. Kasihan ya! Orang-orang nih senangnya ribut melulu, bukannya mengurus membela rakyat supaya nasibnya lebih baik dari tahun ke tahun. Orang-orang beginian yang harus kita makzulkan.
Anda pun kalau ditunjuk jadi pejabat atau wakil rakyat tapi tidak membela rakyat, sehingga si Mak Zul susah cari makan, harus siap untuk dimakzulkan.
Atau anda yang belum menikah sudah punya pacar, dan anda tidak setia terhadap pacar anda itu, siap-siap juga untuk dimakzulkan.
Ha.ha.ha…makzul lo?
CP, Feb 2010
http://www.ceppi-prihadi.co.nr
January 30, 2010
Susu Skim dan Skimmer
Apa hubungannya susu skim dengan skimmer?
Anda tahu?
Jawabnya adalah: Benar dan benar serta tidak berhubungan! (Ingat zaman dulu kan? ada bentuk soal tes yang berupa 2 pernyataan yang bisa betul atau salah, lalu keduanya bisa punya hubungan atau tidak. Zaman sekarang masih ada nggak ya bentuk soal seperti ini?) Jadi benar-benar tidak berhubungan!
Lalu ada apa dengan susu skim?
Tentu saja susu ini salah satu jenis susu, hanya dia dari jenis yang sudah dikurangi kadar lemaknya. Pastinya lewat proses tertentu sehingga lemaknya bisa berkurang.
Zaman sekarang susu rendah lemak cukup populer, terutama susu untuk kebutuhan orang dewasa dan lansia (Lanjut usia, menggantikan istilah manula = manusia usia lanjut, apa bedanya ya? He.he.he..manula mungkin dianggap kurang sopan, masak orang sepuh dibilang manusia! Kesannya mereka dianggap makhluk tersendiri)
Susu rendah lemak yang sering dipadukan dengan kandungan kalsium yang tinggi, dibutuhkan orang dewasa untuk mencegah kekeroposan tulang, dengan menghindari potensi kegemukan dan bertambahnya kolestrol pada tubuh. (Zaman dulu lagi...susu itu identik dengan anak-anak, orang dewasa yang masih minum susu dianggap kekanak-kanakan? Padahal? he.he.he...)
Susu Skim (bukan iklan, sumber gambar www.dinomarket.com)
Sementara skimmer?
Wah, ini apalagi! Istilah ini sedang populer-populernya! Yang jelas tidak ada hubungannya dengan susu, melainkan berhubungan dengan pembobolan ATM.
Katanya, pembobolan ATM yang beritanya sedang marak di media, menggunakan alat ini. Skimmer berfungsi membaca data dari kartu ATM, yang dimasukkan ke dalam lubang kartu mesin ATM. Nah, si skimmer yang dipasang di mulut lubang, membaca dan menyimpan datanya, sehingga berikutnya si pelaku dapat melakukan kloning kartu ATM tsb.
Terus PIN-nya?
PINnya didapat dari alat lain, yaitu kamera kecil (spycam) yang dipasang di dekat ATM itu, yang merekam gerakan penekanan tombol seseorang yang menekan tombol angka PIN.
(Wah, ngemodal juga ya orang yang mau membobol ATM. Butuh susu skim, eh skimmer, dan butuh spycam)
Gambar Skimmer (sumber gambar: krebonsecurity.com)
Terus bagaimana dengan kita sebagai nasabah bank? Rawan dong uang kita yang berada di bank. Bisa dibobol mereka juga, seperti korban-korban yang di Bali itu! Sehabis kita menarik uang kita di ATM, giliran mereka yang menarik uang kita juga dengan kartu kloning-nya.
Di berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, apalagi yang namanya si kotak ajaib televisi, sudah dijelaskan bagaimana pembobolan ATM ini bisa dilakukan dan bagaimana kita menghindari agar tidak menjadi korban.
Ini salah satunya, dari detiknews.com
"Bagaimana menghindari Skimming?
§ Kenali mesin ATM yang digunakan dengan baik.
§ Kalau bisa, gunakan ATM di lokasi yang sama sesering mungkin sehingga akan terlihat jika terjadi perubahan.
§ Perhatikan bila ada hal aneh pada mesin ATM seperti goresan, bercak, selotip, bekas lem dan hal-hal mencurigakan lainnya.
§ Jika menemukan perubahan atau keganjilan pada ATM, laporkan pada pihak Bank dan tunda/jangan lakukan transaksi.
§ Upayakan untuk mengakses ATM yang ada di dalam bank atau di lokasi yang ramai dan terang untuk meminimalisir risiko.
§ Untuk penggunaan kartu di luar ATM (pada tempat belanja atau restoran) selalu perhatikan apa yang dilakukan petugas pada kartu dan tanyakan jika ada perilaku yang aneh.
§ Jika digunakan saat berbelanja, kartu harusnya hanya digesekkan pada mesin resmi dan mesin kasir, tanyakan pada petugas bila menggesekkan kartu ke alat lain (terutama jika alat itu ada di tempat tersembunyi seperti di balik meja)."
Tambahan dari saya, berdasarkan yang saya baca dari berbagai sumber:
Anda jangan pernah memberitahukan PIN ATM anda kepada siapapun juga, termasuk orang-orang di dekat anda (he.he.he..teman atau pacar kali, bisa jadi dia ikut membobol atm anda, makanya kenali teman dan pacar anda dengan baik).
Juga hati-hati terhadap orang yang terlihat mau membantu anda pada saat anda mengalami kesulitan di depan mesin ATM, jangan sampai menyerahkan kartu ATM atau memberitahukan PIN anda, apalagi menyerahkan uang hasil penarikan anda dari ATM, he.he.he….Eitt….hati-hati juga dengan kejahatan dengan modus hipnotis yang juga sering terjadi di sekitar kita!
Sejauh kita selalu berhati-hati dan mengikuti apa yang dianjurkan di atas, Insya Allah anda terhindar dari pembobolan.
Oh, ya, hati-hati juga pembobolan yang dilakukan anda sendiri! Kadang-kadang kita terhipnotis suatu barang, sehingga kita tanpa pikir panjang langsung pergi ke ATM, menguras habis isi rekening kita, lalu uang yang didapat dibelanjakan di mal atau di mana pun.
Kalau sudah begini, para pelaku pembobol ATM tidak kebagian lagi dong! Uangnya sudah duluan dibobol anda!...he.he.he...
Nanti mereka nggak bisa beli susu skim lagi deh!...hahaha...
CP, Jan 2010
http://harihari-ceppi.blogspot.com
Gunakan Uang Anda Secara Bijak!
January 23, 2010
Printer Untuk Menggandakan Uang?
Uang dan Printer
Ada yang baru di kantor tempat saya bekerja, tepatnya di departemen Sales. Yaitu sebuah printer inkjet warna yang ukurannya cukup besar, yang baru dibeli untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan di sana.
Sebenarnya tidak ada yang begitu menarik dengan printer baru tersebut, selain jenisnya yang baru yang sebelumnya belum ada di kantor saya. Sempat melihat-lihat dan mencoba mengoperasikan printer tersebut sambil melihat fitur-fitur yang ada, perhatian saya tertarik dengan adanya sebuah stiker yang tertempel di bagian samping badan printer tersebut.
Saya perhatikan lebih detil stiker tersebut, yang bahannya dari kertas security, sejenis dengan kertas materai, juga adanya stiker kecil lain hologram di tengahnya, tertulis “BADAN KOORDINASI PEMBERANTASAN UANG PALSU” dengan tulisan di sekeliling stiker tersebut “DILARANG MENGGANDAKAN UANG”. Wah, pasti printer ini kualitas printingnya cukup bagus sehingga harus menggunakan stiker tersebut, yang artinya pengguna printer diminta untuk tidak menge-print uang, pikir saya. Dan pastinya tipe printer ini juga harus didaftarkan ke Badan tersebut, sebagai satu tipe printer yang berpotensi disalahgunakan untuk menggandakan uang, uang palsu.
Stiker Dilarang Menggandakan Uang
Buat sebagian teman-teman yang terbiasa bekerja dibantu dengan printer high-end, pastilah hal di atas tidaklah asing. Tapi buat saya, hal ini terhitung baru meskipun saya pernah tahu/ membaca mengenai aturan penempelan stiker pada printer yang dianggap bisa mengeprint uang. Akhirnya saya melakukan browsing di google, dan mendapatkan beberapa informasi mengenai stiker ini.
Katanya, memang ada aturan yang mengharuskan vendor printer/mesin fotokopi warna agar memasang pada barang yang diproduksi/dijual semacam stiker yang berisi larangan penggunaan printer berwarna untuk mencetak uang palsu. Hal ini bertujuan agar kepemilikan printer/mesin fotokopi itu bisa dikontrol, khususnya jika disalahgunakan untuk memproduksi uang palsu. Katanya juga, pemilik harus didaftar dengan menyerahkan copy kartu identitas pemilik. Tapi saya tidak tahu apakah perusahaan saya mendaftarkan diri atau tidak, yang jelas printer tersebut sudah ada di kantor dan tinggal pakai saja. (Saya jadi ingat peraturan yang mengharuskan kita meregistrasi nomor hape prabayar yang akan digunakan, untuk keperluan pendataan di operator selular selain untuk mengurangi potensi kriminalitas yang memanfaatkan telepon selular. Peraturan yang tidak jelas implementasinya di lapangan! Kita mengisi data palsu pun, tetap saja nomor hape kita itu bisa aktif dan dipakai! Begitulah Indonesia….)
Juga, tentu saja stiker yang dikeluarkan oleh Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal), yang secara struktur di bawah BIN, tersebut harus diganti dengan uang senilai tertentu oleh vendor printer tersebut. Ini yang dikeluhkan oleh para vendor karena hal itu berarti menambah biaya distribusi barang yang mereka pasarkan. (Jangan-jangan harus dibayar konsumen tuh! He.he.he..)
Saya pribadi setuju bahwa konsumen pemakai printer harus mendapatkan edukasi mengenai larangan penyalahgunaan printer jenis ini, apalagi disalahgunakan untuk membuat uang palsu. Juga mengenai ancaman hukum jika pemakai melakukan suatu tindakan kejahatan memanfaatkan printer. Namun peraturan harus dibuat bisa diimplementasikan seefektif mungkin tanpa harus melakukan hal yang mubazir. Dengan stiker yang didapatkannya harus membayar, yang mungkin mempengaruhi harga jual printer, apakah konsumen pemakai menjadi sadar dan tahu akan potensi penyalahgunaan maupun ancaman hukum terhadap tindakan penyalahgunaan tersebut?
Pemasangan stiker ukuran seperti itu apakah efektif? Jangan-jangan nantinya seperti peringatan pada bungkus rokok, “MEROKOK DAPAT MERUGIKAN…” yang dianggap angin lalu oleh para perokok.
Lucunya lagi , kalaupun printer ini digunakan untuk menge-print uang, apakah Basoputal bisa mengindentifikasi dari printer mana uang itu berasal?
Apa tidak sebaiknya edukasi itu bersifat menyeluruh, terhadap semua lapisan masyarakat? Para pengguna printer/mesin fotokopi warna dididik dan dihimbau agar tidak menyalahgunakan alat yang dimiliki mereka itu, beserta ancaman hukuman yang bisa mereka terima jika bandel melakukannya. Masyarakat umum dijelaskan bagaimana mendeteksi perbedaan uang asli dan uang palsu, termasuk uang palsu yang berasal dari proses printing printer/mesin fotokopi warna. Selalu diingatkan kewaspadaan terhadap peredaran uang palsu, termasuk membiasakan selalu mengecek keaslian uang pada saat transaksi (yang mengeceknya kedua belah pihak, yang menyerahkan uang maupun yang menerima uang, dan tidak perlu tersinggung ya! He.he.he…)
Usulan, bagaimana kalau teknologi pembuatan uang ini dibuat lebih canggih lagi, sehingga para pembuat dan pengedar uang palsu sulit untuk membuat dan mereproduksi uang ini? Apalagi hanya dengan menggunakan sebuah printer!
Eh, karena penasaran terhadap kualitas cetakan printer ini, saya mencoba menge-print sebuah image uang 100 ribuan. Hasilnya?
Memang mirip secara penampilan, meskipun di print di atas kertas HVS. Namun jika dipegang, ya jelas sekali bedanya dengan uang asli. Apalagi jika kita melihatnya dengan menggunakan sebuah lup, terlihat printingnya yang tidak tajam, beda dengan uang asli.
Jika anda mencoba hal yang sama, jangan sekali-sekali hasil print-nya ditaruh di dompet. Salah-salah jika suatu saat ada razia polisi, anda bisa kena pidana oleh petugas karena menyimpan uang palsu! Jadi, hati-hatilah menggunakan printer anda. Saya bilang ini karena saya sayang anda, jangan sampai anda dipenjara karena sekedar iseng!
Ingat lho, sekarang tidak ada kamar penjara khusus dengan kualitas pelayanan nomor satu, semuanya sama seperti penjara!..he.he.he..
CP, Jan 2010
http://harihari-ceppi.blogspot.com
January 20, 2010
Pinjam streplesnya dong!
“Pinjam streplesnya dong!”
“Kamu tadi ambil jepretanku ya?”
“Minta isi hekter-nya, Bu!”
Begitulah kira-kira beberapa percakapan sehari-hari di tempat kerja kita. Ketiganya menyinggung tentang suatu alat yang berfungsi untuk menggabungkan beberapa lembar kertas menjadi satu. Tidak lengkap rasanya kalau dalam menangani dokumen-dokumen/kertas-kertas pekerjaan tidak ada alat tersebut! Alat yang disebut di atas dengan steples, ada juga yang streples, ada yang jepretan, dan ada juga yang hekter serta sebenarnya banyak sebutan yang lain. Saya tebak, istilah “hekter” biasanya disebut oleh orang-orang yang umurnya 35an tahun ke atas. (Anda biasa menyebut yang mana? He.he.he..)
Ngomong-ngomong, apa nama sebenarnya alat itu ya?
Streples, steples, jepretan, jegrekan, jegregan, ceklekan, hekter atau apa?
(sumber gambar: onlinepharmacynz.com & nelanz.com)
Coba kita ulas dan kita lihat kamus!
Dalam bahasa Inggris, alat yang digunakan untuk menggabungkan kertas itu disebut stapler. Stapler dengan akhiran “-er” yang berarti “alat” seperti halnya cooker, reader, bumper dan lain-lain. Sementara isinya, kawat berbentuk U yang dengan alat itu nantinya didorong masuk menembus kertas dan ditekukkan sehingga kertas-kertas tersebut bergabung menjadi satu, namanya adalah Staples.
Jadi Stapler dan Staples!
Ooh…makanya orang menyebutnya dengan Steples, karena mungkin lebih sering dengar, atau lebih enak dengar istilah staples, yang maksud sebenarnya adalah isi dari stapler.
Jadi boleh ya kalau saya bercanda kepada teman kerja wanita, saya bilang,”Saya pinjam stapler-nya dan saya minta staples-nya!”, karena staplesnya tidak kembali, he.he.he…
Saya kadang-kadang geli saja mendengar seseorang menyebut nama alat itu dengan “streples”. Langsung saya teringat dengan satu merek permen/obat pelega tenggorokan, strepsils (maaf, bukan iklan ya!). Atau karena berarti “tanpa tali” dari istilah dalam bahasa Inggris “strapless”, bisa terbayang juga satu jenis pakaian wanita yang dari bawah ke bagian atas hanya sampai di dada. Atau juga jenis pakaian dalam wanita (maaf) “strapless bra” yang memang tidak menggunakan tali, ha..ha..ha…
Habisnya dengar istilahnya itu lho! Mungkin menyebut itu karena tidak tahu nama sebenarnya dari alat itu, hanya mendengar dari orang lain.
Oh, ya, ada juga orang yang menjual souvenir pernikahan berupa streples! Hah! Masak? Iya, maksudnya stapler, stapler mini, bukan streples yang tadi saya paparkan. Mau lihat? Atau anda mau pesan streples ini? Silakan kunjungi alamat ini http://souvenirpernikahanku.com (wah, jadi dipromosi-in tuh website-nya!)
Benda-benda "streples" (he.he.he..maksudnya "strapless"!, sumber gambar: fashiontravesty.com & nelanz.com)
Dalam bahasa Inggris ya?
Terus, dalam bahasa Indonesianya apa dong?
Wah, tidak jelas bahasa Indonesianya. Maaf, karena saya bukan ahli bahasa, melainkan hanya orang iseng!..he.he.he..
Yang jelas, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah Stapler dan Staples sudah masuk. Saya kurang tahu pasti apakah kalaupun istilah itu sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, ejaannya mengalami penyesuaian atau tidak. Tapi saya memang membiasakan diri menyebut alat itu dengan stapler dan isi alat itu dengan staples, meskipun kadang orang yang mendengarnya kurang memperhatikan perbedaan kedua istilah ini.
Ada istilah pengokot, yang digunakan di Wikipedia berbahasa Indonesia. Cukup terdengar lucu bukan? Pengokot, dengan kokot sebagai padanan untuk staples. Kokot, kokot, kokot...makanya mungkin istilah ini tidak akan populer, karena (maaf) kurang enak terdengar.
Bagaimana dengan jepretan?
Jepretan jelas bahasa Indonesia, juga sering digunakan orang untuk menyebutkan alat stapler tersebut. Namun apakah istilah ini resmi atau bukan, saya kurang tahu. Beberapa kamus menyebutkan bahwa padanan bahasa Indonesia untuk kata stapler adalah jepretan. Agak lucu, meskipun saya sendiri kadang-kadang menyebut stapler dengan sebutan jepretan ini. Jepret!...Jepret!...Kesannya orang lagi memotret ya? Apa lagi menjepret orang dengan karet?
Stapler dan bukan streples (sumber gambar: id.wikipedia.org)
Kalau hekter? Istilah apa lagi nih!
Hekter itu sama maksudnya dengan stapler, hanya berasal dari bahasa Belanda. Kita kan dulu penggemar tim kesebelasan Belanda! Eh,…sorry..maksudnya dulu kita dijajah Belanda. Hekter berasal dari kata haakje, yang berarti stapler.
Jadi terserah deh, jepretan, cekrekan, hekter, jegregan, jegrekan, ceklekan, stapler atau hekter…yang penting jangan streples…! Ha.ha.ha…
CP, Jan 2009
http://harihari-ceppi.blogspot.com